Kamis, Februari 19, 2009

Ibu... (Renungkan lah ini)

Ibu melahirkan kita sambil menangis kesakitan. Masihkah kita menyakitkan- nya?
Masih mampukah kita tertawa melihat penderitaan- nya?
Mencaci maki-nya?
Melawan-nya?
Memukul-nya?
Mengacuhkan- nya?
Meninggalkan- nya?
Ibu tidak pernah mengeluh membersihkan kotoran kita waktu masih kecil,
Memberikan ASI waktu kita bayi,
Mencuci celana kotor kita,
Menahan derita,
Menggendong kita sendirian.

Disaat ibumu tidur, cuba kamu lihat matanya dan bayangkan matanya takkan terbuka untuk selamanya..tanganny a tak dapat hapuskan airmata mu dan tiada lagi nasihat yang sering kita abaikan..bayangkan ibumu sudah tiada..apakah kamu cukup membahagiakannya. .apakah kamu pernah berfikir bertapa besar pengorbanannya semenjak kamu berada di dalam perutnya...kirim mesej ini pada semua...itupun kalau kamu sayang ibumu dan mau mengingatkan teman2mu

Ingat-ingatlah lima aturan sederhana untuk menjadi bahagia:
1. Bebaskan hatimu dari rasa benci.
2. Bebaskan pikiranmu dari segala kekuatiran.
3. Hiduplah dengan sederhana.
4. Berikan lebih banyak (give more)
5. Jangan terlalu banyak mengharap (expect less)

SADARILAH bahwa di Dunia ini ga da 1 orang pun yang mau mati demi IBU, tetapi....
Beliau justru satu-satunya orang yang bersedia mati untuk melahirkan kita…

Selasa, Februari 03, 2009

Putus! Segampang itu?

“Kamu pikir segampang itu?” suatu SMS mampir ke hape seorang wanita yang duduk di depan kmputer. Yang dia kerjakan sekarang bukan mengetik di keypad computer tapi menekan-nekan tuts telepon gengam dengan seribu perasaan gemuruh yang mampir di hatinya.
“Setidaknya kamu kasih solusi dong… bukannya hanya pasrah begini!” suatu SMS yang ketus.
“Aku mesti kasih saran apa sama kamu? Bukannya selama ini kamu selalu mengambil keputusan sendiri? Kenapa saat ini kamu butuh saran aku?” balasan SMS yang tidak kalah pedasnya kembali mampir di hape wanita itu. Wanita itu gerah dia berkali-kali memperbaiki tempat duduknya. Teman kerjanya datang membawa map-map rapi ke meja kerjanya tapi sama sekali tidak mendapatkan perhatiaannya. Perhatiaannya hanya terfokus pada tulisan di layar hape yang telah membakar bulir-bulir emosi dalam hatinya.
“Tega kamu jadi pacar! Setiap ada masalah kapan sih aku bisa andalin kamu?” tegas dan padat.
“Bukannya kamu yang tidak pernah kasih aku kesempatan untuk menyelesaikan masalah kamu?” jawaban yang kurang memuaskan.
Wanita itu meletakkan hapenya setelah sadar deheman teman seruangannya. Itu sindiran halus untuknya dan dia merasa. Setelah menyelesaikan beberapa paragraph surat yang hendak diketik, wanita itu mencuri-curi kesempatan untuk menekan tuts hapenya. Kayaknya dia telah menemukan kata-kata yang tepat untuk dituliskan.
“Selalu hanya itu yang menjadi alasan kamu setiap kali aku nuntut kamu untuk ada di samping aku.” Sebenarnya hal yang sepele. Kurang komunikasi dan kurang perhatiaan. Simple tapi selalu tidak pernah ada jalan keluarnya bila sedang dipeributkan seperti saat ini.
“Kamu yang tidak mau ngerti sama posisi aku. Aku tidak tau mesti jelasin gimana lagi sama kamu. Terus-terusan ini yang kita permasalahkan. Kenapa sih sedikit pun kamu mau tau posisi orang lain?” begitu keluhan yang dibalaskan oleh pria dengan jarak berpuluh-puluh kilometer disana. Entah dengan perasaan yang bagaimana? Apakah sama sedang gundah gulana Durjana atau malah tanpa ekspresi seperti biasa? Wajah tanpa ekspresi yang selalu saja membuat orang penasaran untuk menebak. Namun, selalu saja lebih banyak salahnya daripada benarnya.
“Aku hanya minta kamu ada untuk aku. Temani aku. Hanya itu, apakah itu terlalu berlebihan buat kamu? Mengapa kamu juga tidak mau ngerti posisi aku?” mulai panas dan inilah masalah utamanya. Waktu dan komunikasi.
“Kayaknya hal ini akan semakin melebar jika kita bahas. Aku capek.” Kata pria itu mencoba mengakhiri. Sekiranya ini masih terlalu pagi untuk membahas masalah yang simple itu. Pria itu menatap ke meja kerjanya dan segera menghela nafas berat.
“Tapi aku juga capek!” mengakhiri saat ini tidak akan semudah yang diucapkan dan dibayangkan.
“Bagus kalau kamu masih tau capek. Asal kamu tau bahwa aku lebih capek dari kamu. Sudah capek di luar aku mesti dengar lagi kamu ngomelin hal-hal yang sepele kayak gini. Aku jadi makin malas untuk melanjutkan hubungan ini.” Sekiranya mungkin ini adalah ucapan terakhir yang dapat membunuh lawannya untuk berhenti merengek waktu dan komunikasi untuk sementara. Apa musuh? Kenapa pacar bisa jadi musuh hanya karena tuntutan waktu dan komunikasi? Ups, aku belum menemukan jawabannya. Sorri, aku juga berkali-kali ingin bertanya kepada orang-orang yang mungkin pernah mengalami hal seperti ini. Disaat Anda sekalian sibuk dengan pekerjaan atau pendidikan Anda lalu pasangan Anda merengek untuk diperhatikan dan mengharapkan komunikasi yang akrab, bagaimana reaksi Anda?
“Kenapa sih kamu jadi marah-marah?” suatu reaksi spontan yang pasti diwarnai oleh ketidakpuasan atas balasan SMS barusan.
“Karena aku sudah cukup sabar menghadapi kamu selama ini. Aku yang selalu mengalah untuk kamu tapi kamu selalu saja mengulang-ulang pertengkaran dengan topic yang sama.” Klise menurut aku. Basi! Kenapa selalu saja akan berakhir dengan kata-kata memuakkan seperti ini?
“Baik lah lebih baik kita Putus! Lupakan aku untuk selamanya…”
“Kamu yakin dengan keputusan kamu?”
“Iya, aku yakin.”
“Baiklah jika memang itu mau kamu. terima kasih telah menemani aku dan memberi warna dalam kehidupan aku selama ini, walaupun akhirnya harus meninggalkan kenangan hitam. Terima kasih telah membangun mimpi bersama aku walaupun akhirnya mimpi itu harus aku pendam dalam-dalam. Maaf jika masih banyak mimpi yang belum bisa kita wujudkan bersama.”
‘Baby, aku inginkan putus! Baby aku tidak sanggup lagi denganmu….
Aku ingin begini, kamu ingin begitu… nggak nyambung lagi…
Nggak yambung lagi…
Bete-bete-bete-bete. Ach, basi-basi-basi-basi loh!’ hehehe… kok mirip banget sama lagu Putus-nya Dewiq feat Ipank sih?
Yah begini lah cinta tak selamanya berarti indah atau tak selamanya manis. Ada saatnya datang dan ada saatnya pergi. Jika melepaskan dan melupakan adalah jalan yang terbaik disaat semua tidak lagi dapat diselesaikan maka biarkan saja orang itu pergi. Karena mempertahankannya sama juga tidak akan membuat kamu atau pun dia lebih baik. Jika melepaskan adalah pilihan yang terbaik mungkin semua akan terasa berat di awal perjalanan namun akan semakin ringan setelah di jalani. Sebab, kita tidak akan pernah tau di sepanjang kita menjalani hidup ini, apa yang akan terjadi? Siapa yang akan kita temui? Dan apa yang akan kita peroleh? Satu aja saran aku jika memang Anda memutuskan untuk mencintai Anda juga mesti punya segenap kekuatan untuk kehilanggan suatu hari nanti. Jadi selamat mencintai dan selamat putus aja deh bagi yang sedang putus. Hehehe….

Memaafkan sebuah perbuatan mulia

Memaafkan adalah perbuatan yang mulia namun pasti lebih berat untuk mempraktekkannya daripada hanya sekadar mengatakannya. Memaafkan kadang hanya sekadar lip service yang sama sekali tidak ada fungsinya. Dan kata ‘kamu dimaafkan’ juga akan terasa sangat sulit untuk diucapkan. Setuju tidak?
Aku akan bercerita sedikit pengalaman pribadi aku yang berkaitan dengan Memaafkan dan Dimaafkan.
Nah, pada acara tahun baru yang baru lewat, aku berencana menghabiskan malam yang berbahagia itu bersama sang pacar. Nah, kami segera bertolak dari rumahku menuju rumahnya yang notabenenya selalu ramai dengan abang dan juga pacarnya. Aku pikir malam itu akan dijalani dengan biasa-biasa saja. Beberapa saat kemudian dia ditelepon oleh temannya yang mengatakan bahwa teman-temannya akan datang ke rumahnya untuk mengadakan barbeque di rumahnya dan meminta izin bahwa itu boleh dilakukan di rumahnya. Secara, memang hanya rumah pacar saya lah yang mendukung untuk mengadakan acara seperti itu. Mereka setuju dan terjadinya.
Beberapa saat kemudiaan, segerombolan teman-temannya datang dengan membawa seperangkat alat dan menu barbeque yang diperlukan. Semua berjalan biasa-biasa saja. Aku masih duduk dalam rumah dan menonton televisi bersama abang, calon kakak ipar, dan sepasang teman abangnya yang juga datang untuk meramaikan suasana. Wow, malam itu terasa sangat ramai. Di luar halaman ramai, di dalam rumah juga ramai. Aku masih menikmati menonton TV. Walaupun beberapa teman pacar, yang hadir saat itu, aku kenal tapi aku sangat malas untuk campur dan heboh-hebohan yang lebay bersama mereka. Intinya aku berpikir selama acara belum mulai ngapain aku ikut-ikutan basi-basi yang tidak penting?
Aku sama sekali tidak berniat memposisikan aku sebagai orang asing saat itu. Teman-teman yang mengenal aku terus mengajak aku untuk gabung ngobrol bersama mereka. Aku menolak mereka secara halus dengan mengatakan bahwa aku akan ikut gabung dengan mereka jika acara sudah mulai dan akhirnya mereka mengerti. Tapi yang tidak disangka-sangka pacar aku nyelutuk begini, “Wah, Feranoka kamu seksi banget malam ini. Emang kamu mau kemana? Calana kamu itu loh pendek benar.” Yang diikuti siulan dari teman-temannya yang jadi turut mengoda si-gadis. Si-gadis pun tersipu malu lalu cepat-cepat menutupi kakinya dengan tangan.
Oke, aku yang coba kaji lebih dalam kata-kata pacar aku barusan, sebenarnya itu tidak salah diucapkan seorang laki-laki normal kayak pacarku. Tapi, menjadi salah karena ada aku di situ. Tidak sepantasnya dia mengucapkan kata-kata seperti itu pada gadis yang bernama Feranoka karena secara itu dapat menyinggung perasaan aku (tolong beri komentar jika aku salah dengan statement ini).
Aku berang dia memuji wanita lain di depanku apalagi itu menyinggung soal bentuk tubuh. Aku berani taruhan siapa pun yang mendengarnya akan menilai itu sungguh bukan suatu komentar bercanda yang berkelas. Itu sama saja menghina aku secara terang-terangan yang secara aku duduk di dalam dan ketika pacarku mengatakan itu dia berada di halaman rumah.
Oke it’s so fine… aku masih bisa mengontrol emosi aku dan aku cukup terhibur dengan sungguhan film yang ditayangkan oleh salah satu stasiun televisi saat itu. Party must go on.
Masih belum beranjak dari tempat dudukku beberapa menit berselang dan Feranoka pun masuk ke dalam mengajakku basa-basi lalu mengajakku keluar. Aku masih bertahan dan menolaknya halus. Aku merasa aku tidak salah melakukan itu, memang benar aku mengenal Feranoka dan kami pernah sekelas waktu SMP dulu namun kami sudah tidak pernah bertemu selama kurang lebih 7 tahun. Bisa dibayangin tidak bagaimana kakunya aku ketika berjumpa dengan dia walaupun aku sama sekali tidak berniat demikian. Aku kembali menegaskan bahwa aku akan gabung bersama mereka jika memang acara benar-benar telah dimulai.
Feranoka cukup mengerti aku namun celutukan pacarku yang berikut ini sangat mngerahkan aku, “Sudah lah…. Dia memang sangat tertutup punya orangnya. Tidak mau bergaul punya sama orang.” Dan Feranoka hanya bisa berkomentar segan, “Tidak apa-apa kalau dia memang tidak mau gabung. Mungkin dia mau nonton dulu.”
What’s maksud lo? Cukup! Kesabaran aku telah habis. Pacar aku sendiri sungguh menjatuhkan martabat aku (beri komentar juga kalau perasaan aku berlebihan). Apakah aku salah besar kalau memang tidak gabung bersama temannya? (beri komentar objektif atas pertanyaan aku).
Aku kecewa dengan sikap pacar aku. Benar-benar kecewa. Meski aku sudah berusaha untuk tidak menjadi orang asing di situ tapi aku malah menampakkan diri aku memang terasingkan di sana.
Baik lah demi menjaga agar suasana tetap happy, aku mengalah. Aku dengan sikap dewasa keluar menjumpai teman-temannya yang lagi berusaha membuat api buat panggangan. Baru segini doang? Ya ampun, suruh aku gabung cuman buat liatin teman-teman cowoknya yang mencoba untuk meyalakan api di arang. Tidak penting banget kan?(beri komentar utuk urusan yang aku anggap tidak penting ini).
Akhirnya aku duduk sambil basa-basi dengan teman-yang aku semasa SMP-sambil sesekali melihat keberhasilan tim cowoknya membuat api unggun.
Aku yang memang sudah tidak mood mengikuti acara dengan ogah-ogahan. Yang cewek pada sibuk nyiapin bumbu dan menu. Aku bete banget. Aku minta pacar aku untuk mengantarkan aku pulang saja. Secara juga, pacar aku tidak memperhatikan aku di situ. Dia lebih sibuk ikut-ikutan, yang alasannya karena dia adalah tuan rumah (baik lah mohon komentar kalian kalau aku salah mengerutu tentang ini). Dari rumahnya sampai perjalanan pulang ke rumahku, sama sekali aku malas berbicara dengannya.
Semakin dipikir-pikir aku semakin berang. ‘Aku tidak bisa memaafkan dia’, ucapku dalam hati. Dia sangat membuat hatiku sakit. Aku tiba-tiba benci sekali padanya.
Baik lah hari ini tiba lah juga. Tanggal 3, aku berulang tahun. Pagi-pagi aku mengecek hape, begitu banyak SMS ucapan selamat ultha masuk. Namun, tidak ada satu pun dari dia. Siangnya dia datang membawa sebungkusan kue ulang tahun. Aku haru sesaat dia membawa itu dan mengucapkan ulang tahun. Thanks a lot.
Aku jadi kepikiran untuk membawa masalah kemarin-kemarin ke tingkat lanjut. Selain dibayang-bayangin rasa sakit hati yang aku fosir terlalu dramatis dan aku juga ingin menuntaskan semua masalah dengan dia. Aku pengen dengar penjelasan dari dia secara hati ke hati. Aku juga pengin sekali melampiaskan emosi ini padanya. Aku ingin dia tau bahwa maaf saja tidak cukup dan aku ingin dia bisa insaf dan menyadari bahwa setiap orang punya kesensitifan yang berbeda-beda. ‘Bagi kamu itu cuman bercanda tapi tidak bagi aku. Coba kamu berada di posisi aku. Di depan banyak orang aku menghina kamu, bagaimana perasaan kamu?’ begitu lah kira-kira cuplikan pengantar pertengkaran kami.
Tidak tau apakah memang aku merasa berlebihan dengan kesensitifan aku atau apa aku sama sekali tidak bisa terima semua penjelasannya dan terus menyalahkan dirinya. Aku ingin dia tau bahwa dia telah salah mengajakku gabung bersama temannya dan finally aku hanya hadir di sana untuk dihina. Pertengkaran jadi alot kayak ban ketika masing-masing sama sekali tidak mau kalah ketika beragumen. Nada-nada balasan yang semakin tinggi dan semakin menghiasi dinding kamar yang terbuat dari tripleks. Bisa dibayangkan dong kalau ini terjadi di rumah susun. Ya, kayak di sinetron-sinetron gitu para ibu-ibu mengintip dari jendela rumahnya untuk melihat siapa gerangan suami-istri yang sedang bertengkar?
Ini menjadi kacau ketika masalah semakin merembet dan merembet ke segala penjuru mata angin. Semua borok keluar lah sudah. Cukup disayangkan sih, kenapa berkali-kali selalu saja masa lalu yang harus dijadikan senjata untuk membunuhku? Selalu saja ‘rasa sakit hati karena pengkhianatan’ itu yang menjadi satu-satunya senjata ampuh untuk melumpuhkan aku. Aku mengakuinya dan sangat sadar akan kesalahan aku itu. Tapi bukannya ketika aku dan dia berniat memperbaiki semuanya kami sudah berjanji bahwa semua yang berhubungan dengan masa lalu tidak boleh diungkit lagi.
Seperti yang aku bilang di awal ternyata memafkan kadang hanya lip service buat meluntuhkan hati kita. Memaafkan hanya akan lebih mudah ketika diucapkan daripada dipraktekkan. Dan sialnya semua itu benar.
Aku makin emosi dan pengen mengakhiri semuanya. Secara, bagi aku ini sudah keterlaluan. Pertama, aku merasa sudah dikhianti. Kedua, aku merasa dihina. Ketiga, aku merasa pacar aku sudah melakukan wan prestasi terhadap persetujuan kita dulu. Dan tau apa keputusanku….
Aku tidak sadar, setan mana yang memberanikan tanganku untuk mengayun dan mendarat di pipinya. Yang aku sadari saat itu bahwa dia pantas menerimanya. Terlepas dari apa kata orang-orang tentang apa yang telah aku perbuat, aku puas banget! Aku tiba-tiba merasa plong. Dan aku sama sekali tidak mikir apa akibat dari perbuatanku. Memang, efeknya tidak kecil. Sesaat setelah aku menamparnya, dia memegangi pipinya sambil menanggis dan mengatakan aku wanita yang judes dan terlalu keras. Aku telah berani menamparnya walaupun secara aku belum pasti menjadi calon istrinya. Ya, dia perlu tau memang ini lah titik batas kesabaran orang. Kadang seseorang akan melalukan sesuatu hal yang tidak diduga ketika batas kesabarannya telah dicabik-cabik oleh suatu emosi.(kalau memang aku salah dan komentar orang lebih banyak mengatakan bahwa aku kurang cerdas dan emosional, terpaksa aku memang harus berkonsultasi dengan Bapak Jacob Esra).
Dia berdiri dan memang sih tidak melakukan apapun tapi selanjutnya dengan masih menanggis dia mengatakan, “PUTUS!!!!”
Itu lah akhir segalanya. Dia melamparkan sejumlah uang yang pernah kita tabung bersama dan uang-uang itu bertaburan di wajahku. Dan akhirnya dia pulang dengan bermacam-macam perasaan. Sedangkan aku hanya bisa terduduk lemas dan menyadari semua telah sia-sia.
(terima kasih mau memberi komentar mendalam atas pertanyaan-pertayaan di atas. Semua nama dan kondisi hanya rekayasa belaka dan maaf jika ada kesamaan nama, tempat, tanggal, cerita yang ada. Semua hanya fiktif belaka.)

Sebuah Curhatan Cinta

SEBUAH CURHATAN CINTA
Cinta itu lebih sulit untuk dimengerti ketika kamu semakin ingin mengerti dirinya. Cinta akan lari ketika kamu memaksa untuk memilikinya. Cinta akan layu apabila kamu berlebihan dalam memupuknya. Cinta akan membuatmu bermimpi ketika kamu semakin larut dalam perasaanmu. Cinta akan membunuhmu ketika kamu berkorban banyak untuknya.
Tapi, selalu akan ada cinta ketika kamu merasa jenuh. Selalu akan ada cinta yang baru setelah kamu melepaska cinta lainnya. Cinta akan dengan mudah masuk ke dalam hati kamu jika kemu mengundangnya masuk. Cinta akan menyembuhkan hati yang terluka dengan airmata kebahagiaan. Cinta akan menguatkan kamu menghadapi kebencian. Cinta akan melahirkan benih yang baik dan inilah awal kehidupan itu berasal. Dan terakhir selalu ada seseorang untuk mencintai kamu…….

Jumat, Januari 09, 2009

Makasih yang sudah singgah

Aku tidak tau nih mesti ngomong apa, yang bisa terucap hanya kata makasih karena sudah mau singgah di rumah curhat aku. Bagaimanapun blog ini adalah salah satu cara aku untuk membuang semua curhatan yang selama ini tidak bisa aku curhatkan ke orang-orang tersayangku. Mungkin bukan 'mereka' yang bisa slalu ingat semua curhatanku dan tentunya mereka tidak akan selamanya bisa terima atau senang mendengar aku terus curhat. Tapi dngan aku punya blog setidaknya aku tidak akan pernah kesepian lagi. nah, karena ini blognya baru, please bagi yang sudah kunjungi blog aku kasih komentarnya biar aku pun bisa mengenal kalian yang telah bersedia mendengar curhatanku. ok? byeee...

Foto-foto yang buat kamu berpikir?

Lutuna............
Monday
cid:image001.jpg@01C78033.C74ABD40


Tuesday
cid:image002.jpg@01C78033.C74ABD40

Wednesday
cid:image003.jpg@01C78033.C74ABD40


Thursday
cid:image004.jpg@01C78033.C74ABD40

Friday
cid:image005.jpg@01C78033.C74ABD40


Last one is ultimate....



Saturday & Sunday

cid:image006.jpg@01C78033.C74ABD40

Teman adalah Hadiah

Teman adalah hadiah dari Yang Di Atas buat kita.
Seperti hadiah, ada yang bungkusnya bagus dan ada yang bungkusnya jelek. Yang bungkusnya bagus punya wajah rupawan, atau kepribadian yang menarik.
Yang bungkusnya jelek punya wajah biasa saja, atau kepribadian yang biasa saja, atau malah menjengkelkan.

Seperti hadiah, ada yang isinya bagus dan ada yang isinya jelek.
Yang isinya bagus punya jiwa yang begitu indah sehingga kita terpukau ketika berbagi rasa dengannya, ketika kita tahan menghabiskan waktu berjam-jam saling bercerita dan menghibur, menangis bersama, dan tertawa bersama.
Kita mencintai dia dan dia mencintai kita.
Yang isinya buruk punya jiwa yang terluka. Begitu dalam luka-lukanya sehingga jiwanya tidak mampu lagi mencintai, justru karena ia tidak merasakan cinta dalam hidupnya.

Sayangnya yang kita tangkap darinya seringkali justru sikap penolakan, dendam,kebencian, iri hati, kesombongan, amarah, dll. Kita tidak suka dengan jiwa-jiwa semacam ini dan mencoba menghindar dari mereka.
Kita tidak tahu bahwa itu semua BUKANlah karena mereka pada dasarnya buruk, tetapi ketidakmampuan jiwanya memberikan cinta karena justru ia membutuhkan cinta kita, membutuhkan empati kita, kesabaran dan keberanian kita untuk mendengarkan luka-luka terdalam yang memasung jiwanya.

Bagaimana bisa kita mengharapkan seseorang yang terluka lututnya berlari bersama kita? Bagaimana bisa kita mengajak seseorang yang takut air berenang bersama?

Luka di lututnya dan ketakutan terhadap airlah yang mesti disembuhkan, bukan mencaci mereka karena mereka tidak mau berlari atau berenang bersama kita. Mereka tidak akan bilang bahwa "lutut" mereka luka atau mereka takut air", mereka akan bilang bahwa mereka tidak suka berlari atau mereka akan bilang berenang itu membosankan dll.

It's a defense mechanism. Itulah cara mereka mempertahankan diri. Mereka tidak akan bilang: "Aku tidak bisa menari"...... tapi Mereka akan bilang "Menari itu tidak menarik." " Aku membutuhkan kamu" "Tidak ada yang cocok denganku." "Aku kesepian" "Teman-temanku sudah lulus semua" "Aku butuh diterima" "Aku ini buruk, siapa yang bakal tahan denganku.." "Aku ingin didengarkan" "Kisah hidupku membosankan.."

Mereka semua hadiah buat kita, entah bungkusnya bagus atau jelek, entah isinya bagus atau jelek. Dan jangan tertipu oleh kemasan. Hanya ketika kita bertemu jiwa-dengan-jiwa, kita tahu hadiah sesungguhnya yang sudah disiapkanNya buat kita. Berikanlah makna di dlm kehidupan Anda bukan hanya untuk diri Anda sendiri saja melainkan juga untuk membahagiakan sesama manusia di dlm lingkungan kehidupan Anda. Berikanlah waktu Anda dgn digabung oleh rasa kasih!

Untuk mengetahui nilainya waktu SATU TAHUN tanyakanlah kepada mahasiswa yg tidak lulus ujian.
Untuk mengetahui nilainya waktu SATU BULAN tanyakanlah kepada Ibu yg melahirkan bayi secara premature.
Untuk mengetahui nilainya waktu SATU MINGGU tanyalah kepada redaksi dan editor dari majalah mingguan.
Untuk mengetahui nilainya waktu SATU JAM tanyakanlah kepada seorang kekasih yg sedang menunggu kedatangan pacarnya.
Untuk mengetahui nilainya waktu SATU MENIT tanyakanlah kepada orang yg terlambat untuk naik kereta api.
Untuk mengetahui nilainya waktu SATU DETIK tanyakanlah kepada seorang yg barusan saja mengalami musibah karena kelalaian dlm sedetik saja.

Yesterday is history, tommorow is mistery, today is a gift!
That's why it's called the present!

Seorang sahabat sama seperti satu permata yg tak ternilai harganya. Seorang kawan bisa membuat kita ceria, membuat kita terhibur. Mereka meminjamkan kupingnya kepada kita pada saat kita membutuhkannya. Mereka bersedia membuka hati maupun perasaannya untuk berbagi suka dan duka dgn kita pada saat kita membutuhkannya.

Maka dari itu janganlah buang waktu yg Anda miliki, janganlah sia2 akan waktu yg sedemikian berharganya. Bagikanlah sebagian dari waktu yg Anda miliki untuk seorang kawan. Pasti waktu yg Anda berikan tsb akan berbalik kembali seperti juga satu lingkaran walaupun terkadang kita tidak tahu dari mana dan dari siapa datangnya. Mulailah kita awali dgn membagikan waktu kita sejenak dgn menforward artikel ini kepada semua kawan atau sahabat yg membutuhkannya. Dgn ucapan I care about you!

The best and the most beautiful things in this world, cannot be seen..nor touched, but are felt in the bottom of our heart,,