Terasa baru aja kemarin aku nulis tentang ‘Putus, lagi!’ di blog ku ini eh, semalam tiba-tiba aku dapat SMS yang mengabari aku bahwa salah satu teman segenk aku waktu SMA dulu, juga putus.
Intinya bunyi SMS itu selain mengabari juga memberi aku mandate untuk segera menelepon si K dan menghiburnya.
Tentu saja aku jadi penasaran dan pengen tau apa yang sedang terjadi sama si K tapi kalau tiba-tiba aku SMS dan to the point menanyakan perihal putusnnya dia juga bukan suatu hal yang bijaksana.
Aku mencoba mencari tau dulu dari temanku si-F, misalnya tentang masalah penyebab putusnya, bagaimana ceritanya, dll. Setelah dapat informasi yang memadai, aku berusaha mencernanya dan berusaha mencari akal alasan tepat apa yang bisa aku gunakan untuk menghubungi si-K.
Malamnya aku menelepon si-K. Awalnya berbasa-basi, putar-putar tidak jelas akhirnya, baru berani bertanya bagaimana hubungannya dengan pacar. Dari awal K mengangkat telephone aku dapat merasakan bahwa dia sedang tidak baik untuk diajak berbicara tentang si pacar (sekarang mantan). Suaranya lemah, sedih, dan tidak bersemangat. Cara bicaranya pun terputus-putus seperti sedang menahan air mata. Aku jadi tidak enak hati meleponenya malam itu. tapi, aku terus menerapkan teknik couching yang baik, bertanya dengan penuh hati-hati. Hasilnya sih tidak banyak, informasi yang aku peroleh malam itu intinya adalah dia sedang tidak bisa cerita banyak dan hanya menegaskan bahwa dia sudah tidak punya hubungan apa-apa dengan si cowok.
Aku dapat memaklumi keenganan si-K untuk berbicara banyak tentang masalah pribadinya di saatnya emosinya naik turun. Setelah telephone ditutup aku pun menghubungi temanku yang lain si-N. di situ aku bercerita banyak, sharing dan mencoba mencari solusi terbaik buat si-K. si-N juga cerita bahwa dia dan F sudah banyak menasehati si-K agar jangan terus larut dalam kesedihan.
Seperti tulisan diblogku kemarin bahwa ketika kita baru putus, perasaan kita campur aduk. Terasa sakit banget, bahkan seperti mau mati! Di saat aku sudah bisa mengendalikan perasaanku sendiri dan sudah bisa menerima kenyataan bahwa tidak ada yang perlu disesali lagi, membuatku better. Aku jadi mengecam sikapnya yang terus larut dan jatuh dalam kesedihan. Aku mengangap kenapa harus jadi lemah hanya gara-gara putus cinta? mengapa kita harus jadi orang yang tertutup hanya gara-gara ditinggalkan cinta?
Nah, aku bercermin sekarang dan menemukan jawabannya. Di saat aku sedang menjadi orang yang tegar aku jadi tidak bisa melihat dari dua sisi yang berbeda. Aku seakan lupa dulu sakitnya aku ketika baru putus.
Hari ini aku mencoba meikirkannya kembali dan mencoba mengurai benang kusut dari sudut pandang aku sendiri (semoga saja si-K bisa menerima tulisanku ini).
Dapat aku maklumi kenapa temanku itu begitu menderita, seakan belum dapat menerima dirinya diputusin oleh pacarnya. Hal itu karena selama ini Si-K tertalu bergantung pada si cowok, mulai dari masalah tugas, antar-jemput dan sebagainya. Si-K merasa dia menemukan seseorang yang tepat untuk pengganti ayahnya yang telah meninggal sejak dia SD. Secara tidak sadar justru si-K (yang dianggap manja) yang membuat si-cowok merasa tertekan, dan capek. Bagaimana yah, di satu sisi aku menilai si-K memang pantas dong manja sama pacarnya sendiri, kalau bukannya sama pacar sendiri lantas mau manja sama siapa? Benar kan?, di sisi lain aku jadi berpikir kenapa selama ini si-K yang terlihat mandiri, tegar, ulet berubah jadi lemah, manja, dan tidak berdaya ketika telah berpacaran?
Kembali lagi aku mengutuki ‘Cinta’. ini terlalu pelik untuk dijelaskan. Aku dapat merasakan bagaimana hancurnya hati temanku, karena aku melihat mereka mulai dari nol. Si-K mencintai cowoknya bukan dari harta. Itu terbukti. Bukan apa-apa ketika mereka baru jadian, si cowok sama sekali tidak punya apa-apa, bahkan kendaraan pun tidak punya.
Mereka rela melewati masa-masa sulit, di mana si cowok sempat dipandang rendah oleh kelaurga si-K. namun toh itu semua masih bisa mereka lewati dengan acungan jempol kami teman satu genk-nya. Si-K menemani cowoknya kemana-mana dengan kendaraan umum seperti beca mesin, menemani si cowok sampai si cowok tamat kuliah dan sekarang mendapat pekerjaan yang layak dan memiliki kemampuan materi yang lebih. Kenapa di saat kelegaan materi sudah didapat si cowok melupakan begitu saja siapa yang telah berjasa sehingga dia bisa seberhasil sekarang?
Tidak habis pikir memang, aku kira si cowok akan melembutkan hati untuk membicarkan semuanya lagi, baik-baik. Toh, sifat bisa diubah. Si-K saja dulu bisa mengerti keadaan si cowok dan dengan rela mau menjalani pacaran dengan konsep sederhana. Kenapa tiba-tiba sekarang yang satu malah menyerah hanya gara-gara hal yang sepele? Coba deh dipikirkan lagi.
Menemukan seseorang yang dapat mencintai kita dengan tulus dan konsep yang sederhana itu sangat sulit. Kita hanya dapat menemukan salah satu dan tidak bisa memenuhi semua keinginan kita 100%. Tidak ada pacar yang sempurna di dunia ini. Jika dia telah dapat menerima keadaan kita tanpa cela, kenapa kita harus menuntut dia dapat melakukan hal yang lebih daripada itu?
Memang ada saatnya kita merasa pacar kita saat ini tiba-tiba menjadi orang yang paling tidak mengerti kita tapi coba juga pikirkan apakah kita selama ini sudah cukup mengerti dirinya?
Tidak mungkin akan ada perselisihan jika masih ada cara untuk mengkomunikasikan. Semoga saja aku dapat lebih netral menanggapi masalah kalian berikutnya.
Bagi yang ingin mengomentari tulisanku ini atau sedang mengalami masalah yang sama. Silahkan mampir di Pinkpinnysspecialblog.blogspot.com atau email pribadi SilviaPinny@yahoo.com.
Medan, 26 April 2009
Minggu, Mei 10, 2009
kamu mungkin punya solusi
Dalam pikiran aku sekarang setelah wisuda mau gimana?, setelah keluar dari kerja lama mau buat apa? Mau cari kerjaan yang seperti apa? Mau kerja yang bagaimana? Gajinya mau berapa? Terus mau nikah umur berapa? Mau cari pasangan yang gimana? setelah nikah mau gimana? Mau punya anak berapa? Setelah punya anak mau kerja lagi atau tidak? Mau jadi ibu rumah tangga aja atau jadi wanita karier? Ribet yah pikiranku. Untuk wanita seumuran (21 tahun, aku merasa baru kemarin deh tamat sekolah dengan rok abu-abu, eh tau-taunya umurku sudah terus bertambah) aku berpikiran sepanjang gitu normal tidak sih? Aku merasa hidupku tidak normal, selalu terbebani dengan pikiran-pikiran negative sehingga akhirnya gitu deh terbebani sendiri. Merasa hidup itu kok berat banget untuk dihadapi. Soalnya dari semua pertanyaan yang aku tulis tadi, jawabannya bakal sambung-menyambung jadi satu (kayak lagu kebangsaan Indonesia yah?) yang akhirnya ujung-ujungnya aku jadi takut ngebayanginnya.
Kalau saja aku bisa memilih aku tidak ingin hidup di sini dan seperti ini. Bukannya aku tidak bersyukur dan menyadari hidupku ini tidak berjalan sesuai dengan rencanaNya (ih, religius banget yah?) tapi aku tidak sanggup menghadapi hidup yang kompleks ini apalagi tidak didukung oleh keluarga yang solid. Kadang, aku tidak tau mesti cerita dimana, tentang semua impian-impian aku, target-targetku, kerjaan kantor aku, masalah kesehatanku, belum lagi sharing tentang pikiran aku yang panjang-panjang di atas?
Aku memang kesepian, dan bukan berarti lantas aku jadi wanita jablay, aku tetap merasa aku cukup mandiri di dunia ini, dan sedikit menutup mata dengan namanya cinta (alias membiarkan orang datang dan pergi sesuka hatinya, mirip lagu siapa yah?) dan merasa aku tidak perlu someone special untuk menemani hari-hariku, mengisi hari-hariku, selalu siap memberikan telingga dan hatinya untuk mendengar curhatanku, atau selalu siap memberikan bahunya untuk menopang aku di saat aku letih perasaan sekaligus motivator aku tapi itu semua merupakan wujud kerinduan hati aku yang terdalam. Aku tidak minta Tuhan menurunkan malaikat setampan bradpritt, sekaya atau seperfect Price William untuk jadi pasangan aku, aku cuman minta criteria seperti yang aku idamkan. Cukup simple, bukan? Ini lah aku wanita dengan segenap kesimpelannya, dengan segenap kekeurangannya namun masih berharap Tuhan itu baik (dan akan selalu baik).
Maaf deh jika aku berubah jadi melankolis, soalnya aku mesti bertarget dari sekarang dan tidak ingin hidup hanya let it flow atau gone by wind, aku mesti menyusun target mulai dari kuliah, kerja, sampai pasangan. Karena, semakin lama aku hanya terduduk memikirkan pertanyaan-pertanyaan tadi semakin lama aku membiarkan hidupku ini dihantui ketakutan kegagalan. Aku hanya mencoba, selanjutnya aku tetap serahkan sesuai dengan rencanaNya. Mohon doanya teman-teman.nah, yang mau ikutan sharing tentang tulisan terbaru aku ini silahkan saja akses blog aku di pinkpinnysspecialblog.blogspot.com atau email saja ke SilviaPinny@yahoo.com atau FS di “Pink” atau FB “Pinkpinny”.
I life until now because onething maybe it’s you…. Thanks
Medan, 18 April 2009
Kalau saja aku bisa memilih aku tidak ingin hidup di sini dan seperti ini. Bukannya aku tidak bersyukur dan menyadari hidupku ini tidak berjalan sesuai dengan rencanaNya (ih, religius banget yah?) tapi aku tidak sanggup menghadapi hidup yang kompleks ini apalagi tidak didukung oleh keluarga yang solid. Kadang, aku tidak tau mesti cerita dimana, tentang semua impian-impian aku, target-targetku, kerjaan kantor aku, masalah kesehatanku, belum lagi sharing tentang pikiran aku yang panjang-panjang di atas?
Aku memang kesepian, dan bukan berarti lantas aku jadi wanita jablay, aku tetap merasa aku cukup mandiri di dunia ini, dan sedikit menutup mata dengan namanya cinta (alias membiarkan orang datang dan pergi sesuka hatinya, mirip lagu siapa yah?) dan merasa aku tidak perlu someone special untuk menemani hari-hariku, mengisi hari-hariku, selalu siap memberikan telingga dan hatinya untuk mendengar curhatanku, atau selalu siap memberikan bahunya untuk menopang aku di saat aku letih perasaan sekaligus motivator aku tapi itu semua merupakan wujud kerinduan hati aku yang terdalam. Aku tidak minta Tuhan menurunkan malaikat setampan bradpritt, sekaya atau seperfect Price William untuk jadi pasangan aku, aku cuman minta criteria seperti yang aku idamkan. Cukup simple, bukan? Ini lah aku wanita dengan segenap kesimpelannya, dengan segenap kekeurangannya namun masih berharap Tuhan itu baik (dan akan selalu baik).
Maaf deh jika aku berubah jadi melankolis, soalnya aku mesti bertarget dari sekarang dan tidak ingin hidup hanya let it flow atau gone by wind, aku mesti menyusun target mulai dari kuliah, kerja, sampai pasangan. Karena, semakin lama aku hanya terduduk memikirkan pertanyaan-pertanyaan tadi semakin lama aku membiarkan hidupku ini dihantui ketakutan kegagalan. Aku hanya mencoba, selanjutnya aku tetap serahkan sesuai dengan rencanaNya. Mohon doanya teman-teman.nah, yang mau ikutan sharing tentang tulisan terbaru aku ini silahkan saja akses blog aku di pinkpinnysspecialblog.blogspot.com atau email saja ke SilviaPinny@yahoo.com atau FS di “Pink” atau FB “Pinkpinny”.
I life until now because onething maybe it’s you…. Thanks
Medan, 18 April 2009
Putus, lagi
Putus, emang terasa sakit banget. Seperti mau mati. Kalau orang yang belum pernah patah hati pasti deh ngejekin bahwa kita lebay! Padahal sama sekali tidak dibuat-buat, tidak direkayasa, atau semacamnya, nature aja.
Muka pasti bawaanya sendu aja, mulut terkunci rapat atau ada yang lebih dramatis, air mata bawaannya mau keluar terus, terus dan terus.
Itu lah buktinya, maha karya Tuhan yang namanya Cinta. Banyak dipuja tapi tidak sedikit pula orang menyumpahinya (salah satunya aku) karena selama 23 tahun aku hidup di dunia, terasa tidak ada nikmat-nikmatnya Cinta itu aku rasakan. Hahaha… Hiperbola banget!
Seperti kata pepatah seorang teman satu kantorku, “bukan perpisahan yang aku sesali tetapi pertemuan itu lah yang aku sesali.”
Lagi-lagi aku harus mengeluarkan kata bijak yang tidak bosan-bosannya aku lafalkan, “jika melepaskan merupakan satu-satunya cara terbaik untuk membuat dirimu dan dirinya bahagia, maka lepaskan lah dia. Jika memilikinya sama saja hanya akan membuat kamu dan dirinya menderita batin maka lebih baik jangan berusaha untuk mempertahankannya. Karena memeluknya erat tidak akan membuat dunia menjadi lebih baik. Kadang ada saat tertentu kita harus melepasnya. Membiarkan dia hidup bebas dan mengepakkan sayap terbang meninggalkan kita. Supaya kita pun akan diberikan kemampuan yang sama, dianugerahkan orang yang lebih baik.”
Komentar dan Curhat kalian selalu aku rindukan, Pinkpinnysspecialblog.blogspot.com atau email pribadi SilviaPinny@yahoo.com.
Medan, 13 April 2009
Muka pasti bawaanya sendu aja, mulut terkunci rapat atau ada yang lebih dramatis, air mata bawaannya mau keluar terus, terus dan terus.
Itu lah buktinya, maha karya Tuhan yang namanya Cinta. Banyak dipuja tapi tidak sedikit pula orang menyumpahinya (salah satunya aku) karena selama 23 tahun aku hidup di dunia, terasa tidak ada nikmat-nikmatnya Cinta itu aku rasakan. Hahaha… Hiperbola banget!
Seperti kata pepatah seorang teman satu kantorku, “bukan perpisahan yang aku sesali tetapi pertemuan itu lah yang aku sesali.”
Lagi-lagi aku harus mengeluarkan kata bijak yang tidak bosan-bosannya aku lafalkan, “jika melepaskan merupakan satu-satunya cara terbaik untuk membuat dirimu dan dirinya bahagia, maka lepaskan lah dia. Jika memilikinya sama saja hanya akan membuat kamu dan dirinya menderita batin maka lebih baik jangan berusaha untuk mempertahankannya. Karena memeluknya erat tidak akan membuat dunia menjadi lebih baik. Kadang ada saat tertentu kita harus melepasnya. Membiarkan dia hidup bebas dan mengepakkan sayap terbang meninggalkan kita. Supaya kita pun akan diberikan kemampuan yang sama, dianugerahkan orang yang lebih baik.”
Komentar dan Curhat kalian selalu aku rindukan, Pinkpinnysspecialblog.blogspot.com atau email pribadi SilviaPinny@yahoo.com.
Medan, 13 April 2009
Senin, April 13, 2009
Salam hangat
Akhir-akhir ini usaha aku mempromosikan blog aku tidak sia-sia. Sekarang jumlah pengunjung ke blog aku sudah bertambah, walaupun tidak signifikan tapi tetap ucapan syukur harus aku hanturan sebesar-besarnya kepada Tuhan. Setiap usaha yang telah aku lakukan dan segenap ide yang telah aku tuangkan ternyata mendapat sambutan positif dari teman-teman sejawat yang ternyata juga suka ngeblog. Thanks bagi yang sudah mampir dan sudah memberi komentar baik di email, FS, maupun media lainnya. Semoga saja saya tetap bisa berkomunikasi dan menjalin tali persahabatan sekalian juga menyalurkan hobi menulis saya.
Maaf kalau misalnya komentar kalian ada yang belum aku baca, maklum sibuk banget eui… ngejar setoran, ngejar target juga (maklum kan saya sudah mau diwisuda akhir September tahun ini jadi harus tetap semangat!), ngejar deadline kantor juga. Hehehehe… padahal cita-cita saya suatu hari nanti saya bisa kerja Freelance saja tapi dibeberapa bidang yang memang sudah jadi impian saya (kayak yang di novel Pacar Alternatif itu lho, si-Pinisi). Kayaknya seru deh, kerja freelance tapi setorannya banyak. Jadwalnya tidak ketat dan yang paling penting kerjaannya benar-benar yang kita sukai.
Bukan aku bilang kerjaan aku tidak enak, hehehhe… mabok juga kalau setiap hari mesti pelototin angka yang tidak jelas ujung pangkalnya terus ngitung siang-malam (cie… segitunya) tapi bukan milik kita. Hehehehe…
Aku suka menulis tapi bukan berarti aku jago nulis, aku suka berbicara tapi tidak berarti aku cocok jadi penyiar. Hehehe… kira-kira aku cocoknya jadi apa yah?
Nah, yang lagi pengen curhat soal pekerjaannya, atau ada informasi tentang lowongan pekerjaan (untuk saya tentunya), silahkan akses blog aku di Pinkpinnysspecialblog.blogspot.com atau email SilviaPinny@yahoo.com yang selalu on buat kalian. Terima kasih…
Maaf kalau misalnya komentar kalian ada yang belum aku baca, maklum sibuk banget eui… ngejar setoran, ngejar target juga (maklum kan saya sudah mau diwisuda akhir September tahun ini jadi harus tetap semangat!), ngejar deadline kantor juga. Hehehehe… padahal cita-cita saya suatu hari nanti saya bisa kerja Freelance saja tapi dibeberapa bidang yang memang sudah jadi impian saya (kayak yang di novel Pacar Alternatif itu lho, si-Pinisi). Kayaknya seru deh, kerja freelance tapi setorannya banyak. Jadwalnya tidak ketat dan yang paling penting kerjaannya benar-benar yang kita sukai.
Bukan aku bilang kerjaan aku tidak enak, hehehhe… mabok juga kalau setiap hari mesti pelototin angka yang tidak jelas ujung pangkalnya terus ngitung siang-malam (cie… segitunya) tapi bukan milik kita. Hehehehe…
Aku suka menulis tapi bukan berarti aku jago nulis, aku suka berbicara tapi tidak berarti aku cocok jadi penyiar. Hehehe… kira-kira aku cocoknya jadi apa yah?
Nah, yang lagi pengen curhat soal pekerjaannya, atau ada informasi tentang lowongan pekerjaan (untuk saya tentunya), silahkan akses blog aku di Pinkpinnysspecialblog.blogspot.com atau email SilviaPinny@yahoo.com yang selalu on buat kalian. Terima kasih…
Hati-hati, Kali ini sama Dokter. Hah?
ketika dokter indonesia sudah "menjual" hati nuraninya, kemanakah kita bila sakit?
halo rekan-rekan.
..
Ini tulisan yang mungkin 'aneh', saya sebagai seorang dokter justru meminta rekan-rekan untuk berhati-hati pada dokter. Ini mengikuti tulisan Pak Irwan Julianto di Kompas 4 Maret 2009 lalu, yaitu mengenai 'caveat venditor' (produsen/penyedia jasa berhati-hatilah) .
Ceritanya begini, beberapa hari ini saya mengurusi abang saya yang sakit demam berdarah (DBD). Saya buatkan surat pengantar untuk dirawat inap di salah satu RS swasta yang terkenal cukup baik pelayanannya. Sejak masuk UGD saya temani sampai masuk ke kamar perawatan & tiap hari saya tunggui, jadi sangat saya tau perkembangan kondisinya.
Abang saya paksa dirawat inap karena trombositnya 82 ribu, agak mengkuatirkan, padahal dia menolak karena merasa diri sudah sehat, nggak demam, nggak mual, hanya merasa badannya agak lemas. Mulai di UGD sudah 'mencurigakan' , karena saya nggak menyatakan bahwa saya dokter pada petugas di RS, jadi saya bisa dengar berbagai keterangan/penjelas an & pertanyaan dari dokter & perawat yang menurut saya 'menggelikan' . Pasien pun diperiksa ulang darahnya, ini masih bisa saya terima, hasil trombositnya tetap sama, 82 ribu.
Ketika Abang akan di-EKG, dia sudah mulai 'ribut' karena Desember lalu baru tes EKG dengan treadmill dengan hasil sangat baik. Lalu saya tenangkan bahwa itu prosedur di RS. Yang buat saya heran adalah Abang harus disuntik obat Ranitidin (obat untuk penyakit lambung), padahal dia nggak sakit lambung, & nggak mengeluh perih sama sekali. Obat ini disuntikkan ketika saya ke mengantarkan sampel darah ke lab.
Oleh dokter jaga diberi resep untuk dibeli, diresepkan untuk 3 hari padahal besok paginya dokter penyakit dalam akan berkunjung & biasanya obatnya pasti ganti lagi. Belum lagi resepnya pun isinya nggak tepat untuk DBD. Jadi resep nggak saya beli. Dokter penyakit dalamnya setelah saya tanya ke teman yang praktik di RS tersebut dipilihkan yang dia rekomendasikan, katanya 'bagus & pintar', ditambah lagi dia dokter tetap di RS tersebut, jadi pagi-sore selalu ada di RS.
Malamnya via telepon dokter penyakit dalam beri instruksi periksa lab macam-macam, setelah saya lihat banyak yang 'nggak nyambung', jadi saya minta Abang untuk hanya setujui sebagian yang masih rasional.
Besoknya, saya datang agak siang, dokter penyakit dalam sudah visite & nggak komentar apapun soal pemeriksaan lab yang ditolak. Saya diminta perawat untuk menebus resep ke apotek. Saya lihat resepnya, saya langsung bingung, di resep tertulis obat Ondansetron suntik, obat mual/muntah untuk orang yang sakit kanker & menjalani kemoterapi. Padahal Abang nggak mual apalagi muntah sama sekali. Tertulis juga Ranitidin suntik, yang nggak perlu karena Abang nggak sakit lambung. Bahkan parasetamol bermerek pun diresepkan lagi padahal Abang sudah ngomong kalau dia sudah punya banyak.
Saya sampai cek di internet apa ada protokol baru penanganan DBD yang saya lewatkan atau kegunaan baru dari Ondansetron, ternyata nggak. Akhirnya saya hanya beli suplemen vitamin aja dari resep.
Pas saya serahkan obatnya ke perawat, dia tanya 'obat suntiknya mana?', saya jawab bahwa pasien nggak setuju diberi obat-obat itu. Perawatnya malah seperti menantang, akhirnya dengan terpaksa saya beritau bahwa saya dokter & saya yang merujuk pasien ke RS, Abang menolak obat-obat itu setelah tanya pada saya. Malah saya dipanggil ke nurse station & diminta tandatangani surat refusal consent (penolakan pengobatan) oleh kepala perawat.
Saya beritau saja bahwa pasien 100% sadar, jadi harus pasien yang tandatangani, itu pun setelah dijelaskan oleh dokternya langsung. Sementara dokter saat visite nggak jelaskan apapun mengenai obat-obat yang dia berikan.. Saya tinggalkan kepala perawat tersebut yang 'bengong'.
Saat saya tunggu Abang, pasien di sebelah ranjangnya ternyata sakit DBD juga. Ternyata dia sudah diresepkan 5 botol antibiotik infus yang mahal & sudah 2 dipakai, padahal kondisi fisik & hasil lab nggak mendukung dia ada infeksi bakteri. Pasien tersebut ditangani oleh dokter penyakit dalam yang lain. Saat dokter penyakit dalam pasien tersebut visite, dia hanya ngomong 'sakit ya?', 'masih panas?', 'ya sudah lanjutkan saja dulu terapinya', visite nggak sampai 3 menit saya hitung.
Besoknya dokter penyakit dalam yang tangani Abang visite kembali & nggak komentar apapun soal penolakan membeli obat yang dia resepkan. Dia hanya ngomong bahwa kalau trombositnya sudah naik maka boleh pulang. Saya jadi membayangkan nggak heran Ponari dkk laris, karena dokter pun ternyata pengobatannya nggak rasional. Kasihan banyak pasien yang terpaksa diracun oleh obat-obat yang nggak diperlukan & dibuat 'miskin' untuk membeli obat-obat yang mahal tersebut. Ini belum termasuk dokter ahli yang sudah 'dibayar' cukup mahal ternyata nggak banyak menjelaskan pada pasien
sementara kadang kala keluarga sengaja berkumpul & menunggu berjam-jam hanya
untuk menunggu dokter visite.
Abang sampai ngomong bahwa apa semua pasien harus ditunggui oleh saudaranya yang dokter supaya nggak dapat pengobatan sembarangan? Abang juga merasa bersyukur nggak jadi diberi berbagai macam obat yang nggak dia perlukan & jadi racun di tubuhnya.
Sebulan lalu pun saya pernah menunggui saudara saya yang lain yang dirawat inap di salah satu RS swasta yang katanya terbaik di salah satu kota kecil Jateng akibat sakit tifoid. Kejadian serupa terjadi pula, sangat banyak obat yang nggak rasional diresepkan oleh dokter penyakit dalamnya.
Kalau ini nggak segera dibereskan, saya nggak bisa menyalahkan masyarakat kalau mereka lebih memilih pengobatan alternatif atau berobat ke LN. Semoga bisa berguna sebagai pelajaran berharga untuk rekan-rekan semua agar berhati-hati & kritis pada pengobatan dokter.
halo rekan-rekan.
..
Ini tulisan yang mungkin 'aneh', saya sebagai seorang dokter justru meminta rekan-rekan untuk berhati-hati pada dokter. Ini mengikuti tulisan Pak Irwan Julianto di Kompas 4 Maret 2009 lalu, yaitu mengenai 'caveat venditor' (produsen/penyedia jasa berhati-hatilah) .
Ceritanya begini, beberapa hari ini saya mengurusi abang saya yang sakit demam berdarah (DBD). Saya buatkan surat pengantar untuk dirawat inap di salah satu RS swasta yang terkenal cukup baik pelayanannya. Sejak masuk UGD saya temani sampai masuk ke kamar perawatan & tiap hari saya tunggui, jadi sangat saya tau perkembangan kondisinya.
Abang saya paksa dirawat inap karena trombositnya 82 ribu, agak mengkuatirkan, padahal dia menolak karena merasa diri sudah sehat, nggak demam, nggak mual, hanya merasa badannya agak lemas. Mulai di UGD sudah 'mencurigakan' , karena saya nggak menyatakan bahwa saya dokter pada petugas di RS, jadi saya bisa dengar berbagai keterangan/penjelas an & pertanyaan dari dokter & perawat yang menurut saya 'menggelikan' . Pasien pun diperiksa ulang darahnya, ini masih bisa saya terima, hasil trombositnya tetap sama, 82 ribu.
Ketika Abang akan di-EKG, dia sudah mulai 'ribut' karena Desember lalu baru tes EKG dengan treadmill dengan hasil sangat baik. Lalu saya tenangkan bahwa itu prosedur di RS. Yang buat saya heran adalah Abang harus disuntik obat Ranitidin (obat untuk penyakit lambung), padahal dia nggak sakit lambung, & nggak mengeluh perih sama sekali. Obat ini disuntikkan ketika saya ke mengantarkan sampel darah ke lab.
Oleh dokter jaga diberi resep untuk dibeli, diresepkan untuk 3 hari padahal besok paginya dokter penyakit dalam akan berkunjung & biasanya obatnya pasti ganti lagi. Belum lagi resepnya pun isinya nggak tepat untuk DBD. Jadi resep nggak saya beli. Dokter penyakit dalamnya setelah saya tanya ke teman yang praktik di RS tersebut dipilihkan yang dia rekomendasikan, katanya 'bagus & pintar', ditambah lagi dia dokter tetap di RS tersebut, jadi pagi-sore selalu ada di RS.
Malamnya via telepon dokter penyakit dalam beri instruksi periksa lab macam-macam, setelah saya lihat banyak yang 'nggak nyambung', jadi saya minta Abang untuk hanya setujui sebagian yang masih rasional.
Besoknya, saya datang agak siang, dokter penyakit dalam sudah visite & nggak komentar apapun soal pemeriksaan lab yang ditolak. Saya diminta perawat untuk menebus resep ke apotek. Saya lihat resepnya, saya langsung bingung, di resep tertulis obat Ondansetron suntik, obat mual/muntah untuk orang yang sakit kanker & menjalani kemoterapi. Padahal Abang nggak mual apalagi muntah sama sekali. Tertulis juga Ranitidin suntik, yang nggak perlu karena Abang nggak sakit lambung. Bahkan parasetamol bermerek pun diresepkan lagi padahal Abang sudah ngomong kalau dia sudah punya banyak.
Saya sampai cek di internet apa ada protokol baru penanganan DBD yang saya lewatkan atau kegunaan baru dari Ondansetron, ternyata nggak. Akhirnya saya hanya beli suplemen vitamin aja dari resep.
Pas saya serahkan obatnya ke perawat, dia tanya 'obat suntiknya mana?', saya jawab bahwa pasien nggak setuju diberi obat-obat itu. Perawatnya malah seperti menantang, akhirnya dengan terpaksa saya beritau bahwa saya dokter & saya yang merujuk pasien ke RS, Abang menolak obat-obat itu setelah tanya pada saya. Malah saya dipanggil ke nurse station & diminta tandatangani surat refusal consent (penolakan pengobatan) oleh kepala perawat.
Saya beritau saja bahwa pasien 100% sadar, jadi harus pasien yang tandatangani, itu pun setelah dijelaskan oleh dokternya langsung. Sementara dokter saat visite nggak jelaskan apapun mengenai obat-obat yang dia berikan.. Saya tinggalkan kepala perawat tersebut yang 'bengong'.
Saat saya tunggu Abang, pasien di sebelah ranjangnya ternyata sakit DBD juga. Ternyata dia sudah diresepkan 5 botol antibiotik infus yang mahal & sudah 2 dipakai, padahal kondisi fisik & hasil lab nggak mendukung dia ada infeksi bakteri. Pasien tersebut ditangani oleh dokter penyakit dalam yang lain. Saat dokter penyakit dalam pasien tersebut visite, dia hanya ngomong 'sakit ya?', 'masih panas?', 'ya sudah lanjutkan saja dulu terapinya', visite nggak sampai 3 menit saya hitung.
Besoknya dokter penyakit dalam yang tangani Abang visite kembali & nggak komentar apapun soal penolakan membeli obat yang dia resepkan. Dia hanya ngomong bahwa kalau trombositnya sudah naik maka boleh pulang. Saya jadi membayangkan nggak heran Ponari dkk laris, karena dokter pun ternyata pengobatannya nggak rasional. Kasihan banyak pasien yang terpaksa diracun oleh obat-obat yang nggak diperlukan & dibuat 'miskin' untuk membeli obat-obat yang mahal tersebut. Ini belum termasuk dokter ahli yang sudah 'dibayar' cukup mahal ternyata nggak banyak menjelaskan pada pasien
sementara kadang kala keluarga sengaja berkumpul & menunggu berjam-jam hanya
untuk menunggu dokter visite.
Abang sampai ngomong bahwa apa semua pasien harus ditunggui oleh saudaranya yang dokter supaya nggak dapat pengobatan sembarangan? Abang juga merasa bersyukur nggak jadi diberi berbagai macam obat yang nggak dia perlukan & jadi racun di tubuhnya.
Sebulan lalu pun saya pernah menunggui saudara saya yang lain yang dirawat inap di salah satu RS swasta yang katanya terbaik di salah satu kota kecil Jateng akibat sakit tifoid. Kejadian serupa terjadi pula, sangat banyak obat yang nggak rasional diresepkan oleh dokter penyakit dalamnya.
Kalau ini nggak segera dibereskan, saya nggak bisa menyalahkan masyarakat kalau mereka lebih memilih pengobatan alternatif atau berobat ke LN. Semoga bisa berguna sebagai pelajaran berharga untuk rekan-rekan semua agar berhati-hati & kritis pada pengobatan dokter.
Kamis, April 09, 2009
Why WE Nedd a Friend
Friend may not be able to pull you up...
But
They Will still think of ways not to let You Fall
But
They Will still think of ways not to let You Fall
Penting nggak sih?
Hari ini aku dapat sebuah nasehat yang menurutku penting nggak penting sih. Nasehat itu bunyinya begini : ada 4 kriteria cowok sempurna yang seharusnya jadi perhatian kita dalam memilih cowok. Keempat criteria itu adalah sebagai berikut :
1. Cowok itu harus bisa membedakan antara seks dan cinta. (Comment : Hehehe.. benar juga sih. Kadang saat kita terjebak dalam situasi romantis kita jadi tidak mampu lagi membedakan antara cinta dan nafsu. Awalnya sih maksudnya pengungkapan cinta tapi akhirnya berubah jadi nafsu yang sia-sia).
2. Cowok itu harus bisa membedakan 3 A yaitu : , harta, tahta, dan wanita. (Comment : yah, kalau tidak mau munafik sih laki-laki zaman sekarang kebanyakan orang beroriented ketiga hal tersebut. Alasannya adalah selama kita masih bisa memilih, kenapa tidak?)
3. Cowok itu harus memmpunyai 24 jam dalam sehari, 7 hari dalam seminggu, atau 360 hari dalam setahun untuk kamu. (Comment : kalau dipikir-pikir ini egois banget deh. Menurut aku masa setiap menit, setiap detik kita harus selalu ada di sisi pacar atau suami kita? Kan tidak masuk akal? Ya, bisa-bisa nanti pasangan kita yang bosan gara-gara kita banyak nuntut tentang waktu sama dia yang notabenenya orang sibuk. Ya, tapi kalau memang maksud dari pengungkapan itu adalah waktunya itu hanya untuk mencintai kita itu lebih baik).
4. Laki-laki itu harus berani dan mau berkomitmen. (Comment : Nah, yang ini aku setuju banget. Tau kenapa? Karena salah satu tanda laki-laki itu serius dalam menjalani hubungan dengan kita adalah keberaniannya membuat komitmen dan berupaya dengan segenap cara untuk mewujudkan komitmen yang telah dibuatnya tersebut. Dan komitment itu mengambarkan kedewasaan berpikir seorang laki-laki terhadap masa depan hubungan yang hendak dibangun, dan dengan adanya komitmen maka jelas menunjukkan kesiapannya untuk membangun sesuatu yang lebih dari sekedar hanya pacaran).
Bagi yang penegn memberikan komentar lain atau menangapi komentar yang aku berikan silahkan mampir diblog aku di Pinkpinnysspecialblog.blogspot.com atau email aja ke SilviaPinny@yahoo.com
Medan, 08 April 2009
1. Cowok itu harus bisa membedakan antara seks dan cinta. (Comment : Hehehe.. benar juga sih. Kadang saat kita terjebak dalam situasi romantis kita jadi tidak mampu lagi membedakan antara cinta dan nafsu. Awalnya sih maksudnya pengungkapan cinta tapi akhirnya berubah jadi nafsu yang sia-sia).
2. Cowok itu harus bisa membedakan 3 A yaitu : , harta, tahta, dan wanita. (Comment : yah, kalau tidak mau munafik sih laki-laki zaman sekarang kebanyakan orang beroriented ketiga hal tersebut. Alasannya adalah selama kita masih bisa memilih, kenapa tidak?)
3. Cowok itu harus memmpunyai 24 jam dalam sehari, 7 hari dalam seminggu, atau 360 hari dalam setahun untuk kamu. (Comment : kalau dipikir-pikir ini egois banget deh. Menurut aku masa setiap menit, setiap detik kita harus selalu ada di sisi pacar atau suami kita? Kan tidak masuk akal? Ya, bisa-bisa nanti pasangan kita yang bosan gara-gara kita banyak nuntut tentang waktu sama dia yang notabenenya orang sibuk. Ya, tapi kalau memang maksud dari pengungkapan itu adalah waktunya itu hanya untuk mencintai kita itu lebih baik).
4. Laki-laki itu harus berani dan mau berkomitmen. (Comment : Nah, yang ini aku setuju banget. Tau kenapa? Karena salah satu tanda laki-laki itu serius dalam menjalani hubungan dengan kita adalah keberaniannya membuat komitmen dan berupaya dengan segenap cara untuk mewujudkan komitmen yang telah dibuatnya tersebut. Dan komitment itu mengambarkan kedewasaan berpikir seorang laki-laki terhadap masa depan hubungan yang hendak dibangun, dan dengan adanya komitmen maka jelas menunjukkan kesiapannya untuk membangun sesuatu yang lebih dari sekedar hanya pacaran).
Bagi yang penegn memberikan komentar lain atau menangapi komentar yang aku berikan silahkan mampir diblog aku di Pinkpinnysspecialblog.blogspot.com atau email aja ke SilviaPinny@yahoo.com
Medan, 08 April 2009
Langganan:
Postingan (Atom)
