Fad, jika diberikan kesempatan untuk bertemu kembali. Sebenarnya banyak sekali hal yang pengen saya katakan, saya ingin mengurai benang yang sedemikian kusutnya, pengen membenarkan hubungan yang sedemikian rumitnya. Harapan saya tidak banyak. Tidak mengharap adanya kesempatan kedua. Tidak juga mengharapkan memiliki hubungan yang baru (walaupun saya tidak mengerti apa yang disebut 'baru' jika kita tetap 2 individu yang sama-apalagi yang pernah bersama dari baik hingga mengalami konflik serumit ini). Saya tidak mengerti mengapa kamu sampai detik ini belum terketuk hatinya untuk menemui saya dan menyelesaikan secara nyata? (ini lah kekesalan saya kepada anda. Anda bukan saja tidak pernah gentle menghadapi saya, menghadapi masalah, dan menyelesaikannya). Bukankah hubungan kita dimulai dengan sangat baik. Dari awal anda mengejar saya, dan saya begitu tersentuh dengan usaha, kerja keras anda untuk mendapatkan hati saya. Tapi, dengan hati yang lapang dan tidak ada alasan apapun anda menghilang begitu saja. Jadi anda artikan apa hubungan yang telah terbagun selama 2tahun belakangan ini? Saya memang kadang selfish, impatient, and little insecure. I'm make mistake, I'm out of control, and at times hard to control. Saya mengakuinya. Semua sifat buruk saya. Seperti kata anda, saya telah membuat kesabaran anda habis. Anda tidak lagi bisa mengerti saya, tidak lagi bisa bersabar, dan merasa jenuh dengan perlakuan dan sikap saya tersebut. Ya, saya bisa mengerti. Ini kesalahan saya, terima kasih kamu mengingatkan saya akan sifat buruk saya ini. Dan saya sendiri realize that saya sudah keterlaluan. Saya telah mengantungkan ego, emo saya setinggi-tingginya dan menggagap diri paling benar sebenar-benarnya. Tidak peduli sebaik apapun anda, sesabar apapun anda memperlakukan saya, sesantai apapun anda menghadapi saya. Saya tetap menganggap semua itu tidak ada. Maaf, jika saya baru menyadari betapa besar usaha anda untuk menyenangkan hati saya setiap hari, betapa berat usaha anda untuk bersabar mengikuti mood saya yang naik-turun setiap saat. Terima kasih atas usaha anda itu. Maaf, jika tidak sempat ucapkan terima kasih untuk setiap usaha anda untuk menyenangkan saya (lagi-lagi karena gengsi).
Jujur, perpisahan ini bukan yang terbaik buat saya. Saya terlanjur menganggap anda adalah gambaran calon pendamping hidup yang sesuai dengan apa yang saya cari-cari selama ini. Saya selalu bersyukur dalam hati (dan hal ini tidak pernah anda tau) betapa beruntungnya saya karena Tuhan telah memberi kesempatan saya bertemu sampai pacaran dengan anda. Saya selalu merasa sudah menemukan orang yang tepat, dan selalu berusaha melupakan setiap kekurangan yang anda miliki. Seandainya anda juga mengerti usaha saya akan hal ini. Menerima sesuatu yang buruk dari anda seperti juga usaha menerima saya. Saya setiap hari harus bertengkar sendiri dengan hati kecil saya, dan selalu membisikkan memori-memori kebaikkan anda supaya saya bisa diberikan kekuatan dapat mencintai anda terus.
Saya tidak peduli betapa tidak bergunanya blog ini dibuat. Saya tetap mau orang membacanya, termasuk anda sendiri fadli synn wong. Saya ingin anda tau betapa besar kekesalan di hati saya yang belum dapat saya terima, betapa banyak pertanyaan saya tentang anda yang belum terjawab. Dari sekian hal yang ingin saya sampaikan kepada anda, saya mencintai anda.
Maaf jika blog-blog tentang perasaan saya selama ini bocor setelah hubungan saya dengan anda telah menjadi kenangan (walaupun masih banyak tulisan-tulisan tentang anda yang tidak terpublikasikan tersimpan rapi di file saya-dari awal perkenalan hingga pertengkaran dan kebahagiaan-ada tertulis sebagai memori). Saya terlalu mencintai anda sampai-sampai takut sekali anda meninggalkan saya. Saya terlalu lemah dan terlalu membutuhkan anda, sehingga selalu diam-diam menulis setiap moment yang terjadi. Saya takut suatu hari saya tidak akan mengalami moment tersebut kembali sehingga saya merasa perlu untuk menulisnya. Even itu saat bertengkar sekalipun. Saya ingin membaca lagi dan lagi ketika saya merindukan anda. Dan seketika saya merasa betapa anda mewarnai hidup saya.
Terima kasih sekali lagi atas semua pengalaman indah yang pernah anda berikan kepada saya. Dan maafkan saya belum bisa menjadi orang yang tepat untuk mengembalikan kebahagiaan kepada anda. Semoga masing-masing diberikan jalan terbaik dalam menjalani hidup ke depan.
Minggu, Februari 12, 2012
Selasa, November 08, 2011
noon
OMG, I just wrote too much feeling.... Alhought sometimes I hate him, judge him stupid, slow (I hate slow), not gentle, but sometime all I need is he sit and hear me (alhought just be a hearer, I'm so happy), send me a good morning texts, I like he stare at my face while I'm not looking, tell me I'm pretty when I know I'm not, or act stupid just makes me smile. I miss all of that. I miss it so much. So mellowwww... Oooooowwww...
feeling 9/11
This 2 weeks I was texts too much. Sorry. I had wait 2 weeks only for 1 text from u. Now I realize that I'm silly or stupid. Sometimes I don't know how to handle every fight we're going to have, and I will never be a perfect person. As I know every relationship have too many fights, arguments, misunderstandings, forgiveness and sorry. That all is sacrifices and tiredness will makes relationship stronger. But why it doesn't happen to us? Why our relationship turn to be complicated?
Feeling 23/10
Biasanya jalan di pasar akan membuat saya marah2 setiap x. Sekarang malah terasa sepi. Tidak ada yg w benci, tidak ada yg bs w marahin, tidak ada yg w bs w muka masamkan. Tapi justru feeling seperti ini lah yg membuat w kehilanggan. Ironic
Feeling 22/10
Terasa beda yah jalan di ciputra sama yong ci n fadli. Ada rasa kehilangan setiap moment sekarang. Biasanya jalan gandengan tangan, bercanda, atau malah kebut2an siapa jalan paling cepat, atau malah mengelitiknya sampe dia minta ampun. Itu yg buat w rindu sama dia. Rindu bgt... Kok jd melow gini yah?
Selasa, November 01, 2011
i'm in love again
Bagaimana aku harus bersyukur kepada Tuhan karena Dia telah menciptakan seorang Fadli synn wong untukku? Bagaimana aku harus berterima kasih kepada Tuhan karena Tuhan mentakdirkan kami berjodoh? Bagaimana aku harus mengucapkan maaf kapada Tuhan karena menuduh Tuhan memberikan jodoh yang salah kepadaku? Dia tidak seburuk yang aku kira. Dia tidak sejahat yang aku tuduhkan. Dia tidak sebodoh yang aku bayangkan. Aku sering melimpahkan kesalahan atau kemarahan aku atas orang lain kepada dirinya. Tapi dia sama sekali tidak membalas dengan hal yang sama. Dia banyak mengalah. Luar biasa! Aku belum pernah bertemu orang sesabar dirinya selain mamaku. Mereka berdua adalah the best people in my life. Bagaimana aku sanggup mengucapkan kata perpisahan langsung jika setiap saat dia selalu memperlakukan aku dengan segitu manisnya? Walaupun tangan ini menuliskan kata berpisah tapi selalu saja ada usaha untuk kembali bersama. Luar biasa! Aku belum pernah bertemu seorang laki-laki sesopan dia, menjagaku dengan begitu hati-hati bahkan di hal kecil yang sering kali aku lupakan dan anggap tidak penting. Justru dialah yang sering mengingatkan aku betapa pentingnya hal kecil. Jjika orang bilang aku beruntung karena aku mendapatkan seorang laki-laki yang berpendidikan, karier yang ♡;)k(y), serta berparas lumayan, sabar, dan sangat sayang padaku. Itu tidak salah. Ini lah karunia Tuhan yg luar biasa kepadaku. Dan aku memohon supaya memang hal itu tidak akan berkurang. Ataupun hilang. Walaupun aku mengerti bahwa tidak ada yang abadi di dunia ini. I'm realize that I'm not a perfect women but I'm be a perfect women because of Fadli. Its true... Jadi benar banget quote berikut ini : no one falls in love by choice. It is by chance. No one stays in love by chance. It is by work. And no one falls out of love by chance. It is by choice.
Senin, September 13, 2010
Surat Dari Tuhan untukmu
KEPADA: KAMU
TANGGAL: HARI INI
DARI: TUHAN
PERIHAL: DIRI KAMU
Referensi: KEHIDUPAN
Aku Tuhan, hari ini Aku yang akan menangani semua masalahmu.
Aku tidak butuh bantuanmu.
Jadi, salam sejahtera dan Aku mencintaimu selalu.
Catatan: Dan ingat…
Bila dunia ini menyodorkan masalah yang tidak dapat kau tangani sendiri,
jangan berusaha
menyelesaikan masalah itu. Tetapi, letakkanlah masalah itu di dalam doamu
(Untuk diselesaikan
Oleh Tuhan). Aku akan menyelesaikan masalahmu sesuai JADWAL yang Aku
tentukan sendiri. Semua
masalahmu PASTI akan Aku selesaikan, tetapi
sesuai jadwalKu, bukan jadwalmu.
Setelah semua masalahmu kamu letakkan dalam doamu, janganlah kamu
pikirkan dan khawatirkan.
Sebaliknya, fokuslah kepada semua hal-hal baik yang sedang terjadi padamu
sekarang.
Bila kamu terjebak kemacetan dijalan, janganlah marah, sebab masih banyak
orang didunia ini
yang tidak pernah naik mobil seumur hidupnya.
Bila kamu berhadapan dengan masalah di tempat kerja, berpikirlah bahwa
masih banyak orang yang
menganggur bertahun-tahun tanpa pekerjaan.
Bila kamu sedih karena hubungan keluarga, pikirkanlah orang-orang yang
belum pernah merasakan
mencintai dan dicintai.
Bila kamu merasa bosan dengan akhir minggu, pikirkanlah orang-orang yang
harus lembur siang
malam tanpa libur untuk menghidupi keluarga & anak-anaknya.
Bila mobil kamu mogok & mengharuskan kamu berjalan kaki, janganlah marah,
pikirkanlah orang-
orang cacat yang sangat ingin merasakan berjalan diatas kaki sendiri
seperti kamu sekarang.
Bila kamu melihat dicermin rambutmu mulai beruban, janganlah bersedih,
sebab mempunyai rambut
hanyalah merupakan impian bagi orang-orang yang dalam perawatan
kemoterapi.
Bila kamu merenungi makna hidupmu didunia ini & merenungi apa tujuan
hidupmu ini?
Bersyukurlah, karena banyak orang yang tidak punya kesempatan hidup yang
cukup lama untuk
merenungi hidup mereka.
Bila kamu merasa tidak nyaman karena terkena imbas dari kemarahan dan
kekecewaan orang lain,
ingatlah, situasi bisa menjadi jauh lebih buruk; yaitu kamulah yang
merasakan kemarahan &
kekecewaan tersebut!
Bila kamu memutuskan untuk meneruskan surat ini ke orang lain, terima
kasih. Kamu telah
menyentuh kehidupan mereka dalam banyak hal yang tidak pernah kamu
bayangkan!
Salam sejahtera selalu,
TUHAN
God has seen you struggling,
God says it's over.
TANGGAL: HARI INI
DARI: TUHAN
PERIHAL: DIRI KAMU
Referensi: KEHIDUPAN
Aku Tuhan, hari ini Aku yang akan menangani semua masalahmu.
Aku tidak butuh bantuanmu.
Jadi, salam sejahtera dan Aku mencintaimu selalu.
Catatan: Dan ingat…
Bila dunia ini menyodorkan masalah yang tidak dapat kau tangani sendiri,
jangan berusaha
menyelesaikan masalah itu. Tetapi, letakkanlah masalah itu di dalam doamu
(Untuk diselesaikan
Oleh Tuhan). Aku akan menyelesaikan masalahmu sesuai JADWAL yang Aku
tentukan sendiri. Semua
masalahmu PASTI akan Aku selesaikan, tetapi
sesuai jadwalKu, bukan jadwalmu.
Setelah semua masalahmu kamu letakkan dalam doamu, janganlah kamu
pikirkan dan khawatirkan.
Sebaliknya, fokuslah kepada semua hal-hal baik yang sedang terjadi padamu
sekarang.
Bila kamu terjebak kemacetan dijalan, janganlah marah, sebab masih banyak
orang didunia ini
yang tidak pernah naik mobil seumur hidupnya.
Bila kamu berhadapan dengan masalah di tempat kerja, berpikirlah bahwa
masih banyak orang yang
menganggur bertahun-tahun tanpa pekerjaan.
Bila kamu sedih karena hubungan keluarga, pikirkanlah orang-orang yang
belum pernah merasakan
mencintai dan dicintai.
Bila kamu merasa bosan dengan akhir minggu, pikirkanlah orang-orang yang
harus lembur siang
malam tanpa libur untuk menghidupi keluarga & anak-anaknya.
Bila mobil kamu mogok & mengharuskan kamu berjalan kaki, janganlah marah,
pikirkanlah orang-
orang cacat yang sangat ingin merasakan berjalan diatas kaki sendiri
seperti kamu sekarang.
Bila kamu melihat dicermin rambutmu mulai beruban, janganlah bersedih,
sebab mempunyai rambut
hanyalah merupakan impian bagi orang-orang yang dalam perawatan
kemoterapi.
Bila kamu merenungi makna hidupmu didunia ini & merenungi apa tujuan
hidupmu ini?
Bersyukurlah, karena banyak orang yang tidak punya kesempatan hidup yang
cukup lama untuk
merenungi hidup mereka.
Bila kamu merasa tidak nyaman karena terkena imbas dari kemarahan dan
kekecewaan orang lain,
ingatlah, situasi bisa menjadi jauh lebih buruk; yaitu kamulah yang
merasakan kemarahan &
kekecewaan tersebut!
Bila kamu memutuskan untuk meneruskan surat ini ke orang lain, terima
kasih. Kamu telah
menyentuh kehidupan mereka dalam banyak hal yang tidak pernah kamu
bayangkan!
Salam sejahtera selalu,
TUHAN
God has seen you struggling,
God says it's over.
Tiada ketekunan yang tidak membawa hasil
Pernah mendengar situs jaringan pertemanan Friendster? Konon, melalui situs tersebut, banyak orang-orang yang lama tak bersua, bisa kembali bersatu, reunian, dan bahkan berjodoh. Karena itulah, situs pertemanan itu beberapa waktu lalu sempat sangat popular. Karena itu, tak heran jika setelah era suksesnya Friendster, berbagai situs jaringan pertemanan bermunculan. Salah satunya adalah Facebook.
Facebook ini sebenarnya dibuat sebagai situs jaringan pertemanan terbatas pada kalangan kampus pembuatnya, yakni Mark Zuckerberg. Mahasiswa Harvard University tersebut-kala itu-mencoba membuat satu program yang bisa menghubungkan teman-teman satu kampusnya. Karena itulah, nama situs yang digagas oleh Mark adalah Facebook. Nama ini ia ambil dari buku Facebook, yaitu buku yang biasanya berisi daftar anggota komunitas dalam satu kampus. Pada sejumlah college dan sekolah preparatory di Amerika Serikat, buku ini diberikan kepada mahasiswa atau staf fakultas yang baru agar bisa lebih mengenal orang lain di kampus bersangkutan.
Pada sekitar tahun 2004, Mark yang memang hobi mengotak-atik program pembuatan website berhasil menulis kode orisinal Facebook dari kamar asramanya. Untuk membuat situs ini, ia hanya butuh waktu sekitar dua mingguan. Pria kelahiran Mei 1984 itu lantas mengumumkan situsnya dan menarik rekan-rekannya untuk bergabung. Hanya dalam jangka waktu relatif singkat-sekitar dua minggu-Facebook telah mampu menjaring dua per tiga lebih mahasiswa Harvard sebagai anggota tetap.
Mendapati Facebook mampu menjadi magnet yang kuat untuk menarik banyak orang bergabung, ia memutuskan mengikuti jejak seniornya-Bill Gates-memilih drop out untuk menyeriusi situsnya itu. Bersama tiga rekannya-andre McCollum, Dustin Moskovitz, dan Chris Hughes-Mark kemudian membuka keanggotaan Facebook untuk umum.
Mark ternyata tak sekadar nekad. Ia punya banyak alasan untuk lebih memilih menyeriusi Facebook. Mark dan rekannya berhasil membuat Facebook jadi situs jaringan pertemanan yang segera melambung namanya, mengikuti tren Friendster yang juga berkembang kala itu. Namun, agar punya nilai lebih, Mark pun mengolah Facebook dengan berbagai fitur tambahan. Dan, sepertinya kelebihan fitur inilah yang membuat Facebook makin digemari. Bayangkan, Ada 9.373 aplikasi yang terbagi dalam 22 kategori yang bisa dipakai untuk menyemarakkan halaman Facebook, mulai chat, game, pesan instan, sampai urusan politik dan berbagai hal lainnya. Hebatnya lagi, sifat keanggotaan situs ini sangat terbuka. Jadi, data yang dibuat tiap orang lebih jelas dibandingkan situs pertemanan lainnya. Hal ini yang membuat orang makin nyaman dengan Facebook untuk mencari teman, baik yang sudah dikenal ataupun mencari kenalan baru di berbagai belahan dunia.
Sejak kemunculan Facebook tahun 2004 silam, anggota terus berkembang pesat. Prosentase kenaikannya melebihi seniornya, Friendster. Situs itu tercatat sudah dikunjungi 60 juta orang dan bahkan Mark Zuckerberg berani menargetkan pada tahun 2008 ini, angka tersebut akan mencapai 200 juta anggota.
Dengan berbagai keunggulan dan jumlah peminat yang luar biasa, Facebook menjadi 'barang dagangan' yang sangat laku. Tak heran, raksasa software Microsoft pun tertarik meminangnya. Dan, konon, untuk memiliki saham hanya 1,6 persen saja, Microsoft harus mengeluarkan dana tak kurang dari US$ 240 juta. Ini berarti nilai kapitalisasi saham Facebook bisa mencapai US$15 miliar! Tak heran, Mark kemudian dinobatkan sebagai miliarder termuda dalam sejarah yang memulai dari keringatnya sendiri.
Niat Mark Zuckerberg untuk sekadar 'menyatukan' komunitas kampusnya dalam sebuah jaringan ternyata berdampak besar. Hal ini telah mengantar pria yang baru berusia 23 tahun ini menjadi miliarder termuda dalam sejarah. Sungguh, kejelian melihat peluang dan niatan baiknya ternyata mampu digabungkan menjadi sebuah nilai tambah yang luar biasa. Ini menjadi contoh bagi kita, bahwa niat baik ditambah perjuangan dan ketekunan dalam menggarap peluang akan melahirkan kesempatan yang dapat mengubah hidup makin bermakna.
TIADA KETEKUNAN YANG TIDAK MEMBAWA HASIL...
Facebook ini sebenarnya dibuat sebagai situs jaringan pertemanan terbatas pada kalangan kampus pembuatnya, yakni Mark Zuckerberg. Mahasiswa Harvard University tersebut-kala itu-mencoba membuat satu program yang bisa menghubungkan teman-teman satu kampusnya. Karena itulah, nama situs yang digagas oleh Mark adalah Facebook. Nama ini ia ambil dari buku Facebook, yaitu buku yang biasanya berisi daftar anggota komunitas dalam satu kampus. Pada sejumlah college dan sekolah preparatory di Amerika Serikat, buku ini diberikan kepada mahasiswa atau staf fakultas yang baru agar bisa lebih mengenal orang lain di kampus bersangkutan.
Pada sekitar tahun 2004, Mark yang memang hobi mengotak-atik program pembuatan website berhasil menulis kode orisinal Facebook dari kamar asramanya. Untuk membuat situs ini, ia hanya butuh waktu sekitar dua mingguan. Pria kelahiran Mei 1984 itu lantas mengumumkan situsnya dan menarik rekan-rekannya untuk bergabung. Hanya dalam jangka waktu relatif singkat-sekitar dua minggu-Facebook telah mampu menjaring dua per tiga lebih mahasiswa Harvard sebagai anggota tetap.
Mendapati Facebook mampu menjadi magnet yang kuat untuk menarik banyak orang bergabung, ia memutuskan mengikuti jejak seniornya-Bill Gates-memilih drop out untuk menyeriusi situsnya itu. Bersama tiga rekannya-andre McCollum, Dustin Moskovitz, dan Chris Hughes-Mark kemudian membuka keanggotaan Facebook untuk umum.
Mark ternyata tak sekadar nekad. Ia punya banyak alasan untuk lebih memilih menyeriusi Facebook. Mark dan rekannya berhasil membuat Facebook jadi situs jaringan pertemanan yang segera melambung namanya, mengikuti tren Friendster yang juga berkembang kala itu. Namun, agar punya nilai lebih, Mark pun mengolah Facebook dengan berbagai fitur tambahan. Dan, sepertinya kelebihan fitur inilah yang membuat Facebook makin digemari. Bayangkan, Ada 9.373 aplikasi yang terbagi dalam 22 kategori yang bisa dipakai untuk menyemarakkan halaman Facebook, mulai chat, game, pesan instan, sampai urusan politik dan berbagai hal lainnya. Hebatnya lagi, sifat keanggotaan situs ini sangat terbuka. Jadi, data yang dibuat tiap orang lebih jelas dibandingkan situs pertemanan lainnya. Hal ini yang membuat orang makin nyaman dengan Facebook untuk mencari teman, baik yang sudah dikenal ataupun mencari kenalan baru di berbagai belahan dunia.
Sejak kemunculan Facebook tahun 2004 silam, anggota terus berkembang pesat. Prosentase kenaikannya melebihi seniornya, Friendster. Situs itu tercatat sudah dikunjungi 60 juta orang dan bahkan Mark Zuckerberg berani menargetkan pada tahun 2008 ini, angka tersebut akan mencapai 200 juta anggota.
Dengan berbagai keunggulan dan jumlah peminat yang luar biasa, Facebook menjadi 'barang dagangan' yang sangat laku. Tak heran, raksasa software Microsoft pun tertarik meminangnya. Dan, konon, untuk memiliki saham hanya 1,6 persen saja, Microsoft harus mengeluarkan dana tak kurang dari US$ 240 juta. Ini berarti nilai kapitalisasi saham Facebook bisa mencapai US$15 miliar! Tak heran, Mark kemudian dinobatkan sebagai miliarder termuda dalam sejarah yang memulai dari keringatnya sendiri.
Niat Mark Zuckerberg untuk sekadar 'menyatukan' komunitas kampusnya dalam sebuah jaringan ternyata berdampak besar. Hal ini telah mengantar pria yang baru berusia 23 tahun ini menjadi miliarder termuda dalam sejarah. Sungguh, kejelian melihat peluang dan niatan baiknya ternyata mampu digabungkan menjadi sebuah nilai tambah yang luar biasa. Ini menjadi contoh bagi kita, bahwa niat baik ditambah perjuangan dan ketekunan dalam menggarap peluang akan melahirkan kesempatan yang dapat mengubah hidup makin bermakna.
TIADA KETEKUNAN YANG TIDAK MEMBAWA HASIL...
Bahan Renungan
Bahan renungan
Ada pepatah Cina kuno mengatakan:
dengan MELIHAT, aku TAHU
dengan MENDENGAR, aku MENGERTI
dengan MENJALANI, aku PAHAM
Selalu bersyukur akan membuat kita bahagia.
Beberapa cerita berikut ini menggambarkannya...
Begitu memasuki mobil mewahnya, seorang direktur bertanya
pada sopir pribadinya, "Bagaimana kira-kira cuaca hari
ini?" Si sopir menjawab,
"Cuaca hari ini adalah cuaca yang saya sukai." Merasa
penasaran dengan jawaban tersebut, direktur ini bertanya
lagi, "Bagaimana kamu bisa begitu yakin?".Supirnya
menjawab, "Begini, pak, saya sudah belajar bahwa saya tak
selalu mendapatkan apa yang saya sukai, karena itu saya
selalu menyukai apapun yang saya dapatkan".
Jawaban singkat tadi merupakan wujud perasaan syukur.
Syukur merupakan kualitas hati yang terpenting. Dengan
bersyukur kita akan senantiasa diliputi rasa damai,
tenteram, dan bahagia. Sebaliknya, perasaan tak bersyukur
akan senantiasa membebani kita. Kita akan selalu merasa
kurang dan tak bahagia.
Ada dua hal yang sering membuat kita tak bersyukur.
Pertama, kita sering memfokuskan diri pada apa yang kita
inginkan, bukan pada apa yang kita miliki.
Katakanlah Anda sudah memiliki sebuah rumah, kendaraan,
pekerjaan tetap, dan pasangan yang baik. Tapi Anda masih
merasa kurang.
Pikiran Anda dipenuhi berbagai target dan keinginan. Anda
begitu terobsesi oleh rumah yang besar dan indah, mobil
mewah, serta pekerjaan yang mendatangkan lebih banyak
uang. Kita ingin ini dan itu. Bila tak mendapatkannya kita
terus memikirkannya. Tapi anehnya, walaupun sudah
mendapatkannya, kita hanya menikmati kesenangan sesaat.
Kita tetap tak puas, kita ingin yang lebih lagi. Jadi,
betapapun banyaknya harta yang kita miliki kita tak pernah
menjadi "kaya" dalam arti yang sesungguhnya.
Mari kita luruskan pengertian kita mengenai orang "kaya".
Orang yang "kaya" bukanlah orang yang memiliki banyak hal,
tetapi orang yang dapat menikmati apapun yang mereka
miliki. Tentunya boleh-boleh saja kita memiliki keinginan,
tapi kita perlu menyadari bahwa inilah akar perasaan tak
tenteram. Kita dapat mengubah perasaan ini dengan berfokus
pada apa yang sudah kita miliki. Cobalah lihat keadaan di
sekeliling Anda, pikirkan yang Anda miliki, dan
syukurilah. Anda akan merasakan nikmatnya hidup.
Pusatkanlah perhatian Anda pada sifat-sifat baik atasan,
pasangan, dan orang-orang di sekitar Anda. Mereka akan
menjadi lebih menyenangkan.
Seorang pengarang pernah mengatakan, "Menikahlah dengan
orang yang Anda cintai, setelah itu cintailah orang yang
Anda nikahi." Ini perwujudan rasa syukur.
Ada cerita menarik mengenai seorang kakek yang mengeluh
karena tak dapat membeli sepatu, padahal sepatunya sudah
lama rusak.
Suatu sore ia melihat seseorang yang tak mempunyai kaki,
tapi tetap ceria karena masih bisa mempergunakan
tangannya. Saat itu juga si kakek berhenti mengeluh dan
mulai mengucap syukur.
Hal kedua yang sering membuat kita tak bersyukur adalah
adanya kecenderungan membanding-bandingkan diri kita
dengan orang lain. Kita merasa orang lain lebih beruntung.
Kemanapun kita pergi, selalu ada orang yang lebih pandai,
lebih tampan, lebih cantik, lebih percaya diri, dan lebih
kaya dari kita.
Rumput tetangga memang sering kelihatan lebih hijau dari
rumput di pekarangan sendiri.
Ada cerita menarik mengenai dua pasien rumah sakit jiwa.
Pasien pertama sedang duduk termenung sambil menggumam,
"Lulu, Lulu."
Seorang pengunjung yang keheranan menanyakan masalah yang
dihadapi orang ini. Si dokter menjawab, "Orang ini jadi
gila setelah cintanya ditolak oleh Lulu." Si pengunjung
manggut-manggut, tapi begitu lewat sel lain ia terkejut
melihat penghuninya terus menerus memukulkan kepalanya di
tembok dan berteriak, "Lulu, Lulu". "Orang ini juga punya
masalah dengan Lulu?" tanyanya keheranan. Dokter kemudian
menjawab, "Ya, dialah yang akhirnya menikah dengan
Lulu."...
Hidup akan lebih bahagia kalau kita dapat menikmati apa
yang kita miliki.Karena itu bersyukur merupakan kualitas
hati yang tertinggi.
Cerita terakhir adalah mengenai seorang ibu yang sedang
terapung dilaut karena kapalnya karam, namun tetap
berbahagia. Ketika ditanya kenapa demikian, ia menjawab,
"Saya mempunyai dua anak laki-laki. Yang pertama sudah
meninggal, yang kedua hidup di tanah seberang. Kalau
berhasil selamat, saya sangat bahagia karena dapat
berjumpa dengan anak kedua saya. Tetapi kalaupun mati
tenggelam, saya juga akan berbahagia karena saya akan
berjumpa dengan anak pertama saya di surga."
Sungguh temanku, rasa syukur itu memang sangat luuaar
biasa dan teramat sangat membahagiakan hati, meskipun memang terkadang sangat sulit meski hanya untuk bersyukur !
Ada pepatah Cina kuno mengatakan:
dengan MELIHAT, aku TAHU
dengan MENDENGAR, aku MENGERTI
dengan MENJALANI, aku PAHAM
Selalu bersyukur akan membuat kita bahagia.
Beberapa cerita berikut ini menggambarkannya...
Begitu memasuki mobil mewahnya, seorang direktur bertanya
pada sopir pribadinya, "Bagaimana kira-kira cuaca hari
ini?" Si sopir menjawab,
"Cuaca hari ini adalah cuaca yang saya sukai." Merasa
penasaran dengan jawaban tersebut, direktur ini bertanya
lagi, "Bagaimana kamu bisa begitu yakin?".Supirnya
menjawab, "Begini, pak, saya sudah belajar bahwa saya tak
selalu mendapatkan apa yang saya sukai, karena itu saya
selalu menyukai apapun yang saya dapatkan".
Jawaban singkat tadi merupakan wujud perasaan syukur.
Syukur merupakan kualitas hati yang terpenting. Dengan
bersyukur kita akan senantiasa diliputi rasa damai,
tenteram, dan bahagia. Sebaliknya, perasaan tak bersyukur
akan senantiasa membebani kita. Kita akan selalu merasa
kurang dan tak bahagia.
Ada dua hal yang sering membuat kita tak bersyukur.
Pertama, kita sering memfokuskan diri pada apa yang kita
inginkan, bukan pada apa yang kita miliki.
Katakanlah Anda sudah memiliki sebuah rumah, kendaraan,
pekerjaan tetap, dan pasangan yang baik. Tapi Anda masih
merasa kurang.
Pikiran Anda dipenuhi berbagai target dan keinginan. Anda
begitu terobsesi oleh rumah yang besar dan indah, mobil
mewah, serta pekerjaan yang mendatangkan lebih banyak
uang. Kita ingin ini dan itu. Bila tak mendapatkannya kita
terus memikirkannya. Tapi anehnya, walaupun sudah
mendapatkannya, kita hanya menikmati kesenangan sesaat.
Kita tetap tak puas, kita ingin yang lebih lagi. Jadi,
betapapun banyaknya harta yang kita miliki kita tak pernah
menjadi "kaya" dalam arti yang sesungguhnya.
Mari kita luruskan pengertian kita mengenai orang "kaya".
Orang yang "kaya" bukanlah orang yang memiliki banyak hal,
tetapi orang yang dapat menikmati apapun yang mereka
miliki. Tentunya boleh-boleh saja kita memiliki keinginan,
tapi kita perlu menyadari bahwa inilah akar perasaan tak
tenteram. Kita dapat mengubah perasaan ini dengan berfokus
pada apa yang sudah kita miliki. Cobalah lihat keadaan di
sekeliling Anda, pikirkan yang Anda miliki, dan
syukurilah. Anda akan merasakan nikmatnya hidup.
Pusatkanlah perhatian Anda pada sifat-sifat baik atasan,
pasangan, dan orang-orang di sekitar Anda. Mereka akan
menjadi lebih menyenangkan.
Seorang pengarang pernah mengatakan, "Menikahlah dengan
orang yang Anda cintai, setelah itu cintailah orang yang
Anda nikahi." Ini perwujudan rasa syukur.
Ada cerita menarik mengenai seorang kakek yang mengeluh
karena tak dapat membeli sepatu, padahal sepatunya sudah
lama rusak.
Suatu sore ia melihat seseorang yang tak mempunyai kaki,
tapi tetap ceria karena masih bisa mempergunakan
tangannya. Saat itu juga si kakek berhenti mengeluh dan
mulai mengucap syukur.
Hal kedua yang sering membuat kita tak bersyukur adalah
adanya kecenderungan membanding-bandingkan diri kita
dengan orang lain. Kita merasa orang lain lebih beruntung.
Kemanapun kita pergi, selalu ada orang yang lebih pandai,
lebih tampan, lebih cantik, lebih percaya diri, dan lebih
kaya dari kita.
Rumput tetangga memang sering kelihatan lebih hijau dari
rumput di pekarangan sendiri.
Ada cerita menarik mengenai dua pasien rumah sakit jiwa.
Pasien pertama sedang duduk termenung sambil menggumam,
"Lulu, Lulu."
Seorang pengunjung yang keheranan menanyakan masalah yang
dihadapi orang ini. Si dokter menjawab, "Orang ini jadi
gila setelah cintanya ditolak oleh Lulu." Si pengunjung
manggut-manggut, tapi begitu lewat sel lain ia terkejut
melihat penghuninya terus menerus memukulkan kepalanya di
tembok dan berteriak, "Lulu, Lulu". "Orang ini juga punya
masalah dengan Lulu?" tanyanya keheranan. Dokter kemudian
menjawab, "Ya, dialah yang akhirnya menikah dengan
Lulu."...
Hidup akan lebih bahagia kalau kita dapat menikmati apa
yang kita miliki.Karena itu bersyukur merupakan kualitas
hati yang tertinggi.
Cerita terakhir adalah mengenai seorang ibu yang sedang
terapung dilaut karena kapalnya karam, namun tetap
berbahagia. Ketika ditanya kenapa demikian, ia menjawab,
"Saya mempunyai dua anak laki-laki. Yang pertama sudah
meninggal, yang kedua hidup di tanah seberang. Kalau
berhasil selamat, saya sangat bahagia karena dapat
berjumpa dengan anak kedua saya. Tetapi kalaupun mati
tenggelam, saya juga akan berbahagia karena saya akan
berjumpa dengan anak pertama saya di surga."
Sungguh temanku, rasa syukur itu memang sangat luuaar
biasa dan teramat sangat membahagiakan hati, meskipun memang terkadang sangat sulit meski hanya untuk bersyukur !
Love
A student asks a teacher, "What is love?"
The teacher said, "in order to answer your question, go to the wheat field and choose the biggest wheat and come back.
But the rule is: you can go through them only once and cannot turn back to pick."
The student went to the field, go thru first row, he saw one big wheat, but he wonders....may be there is a bigger one later.
Then he saw another bigger one... But may be there is an even bigger one waiting for him.
Later, when he finished more than half of the wheat field, he start to realize that the wheat is not as big as the previous one he saw, he know he has missed the biggest one, and he regretted.
So, he ended up went back to the teacher with empty hand.
The teacher told him, "...this is love... You keep looking for a better one, but when later you realise, you have already miss the person...."
"What is marriage then?" the student asked.
The teacher said, "in order to answer your question, go to the corn field and choose the biggest corn and come back. But the rule is: you can go through them only once and cannot turn back to pick."
The student went to the corn field, this time he is careful not to repeat the previous mistake, when he reach the middle of the field, he has picked one medium corn that he feel satisfy, and come back to the teacher.
The teacher told him, "this time you bring back a corn.... You look for one that is just nice, and you have faith and believe this is the best one you get.... This is marriage.”
The teacher said, "in order to answer your question, go to the wheat field and choose the biggest wheat and come back.
But the rule is: you can go through them only once and cannot turn back to pick."
The student went to the field, go thru first row, he saw one big wheat, but he wonders....may be there is a bigger one later.
Then he saw another bigger one... But may be there is an even bigger one waiting for him.
Later, when he finished more than half of the wheat field, he start to realize that the wheat is not as big as the previous one he saw, he know he has missed the biggest one, and he regretted.
So, he ended up went back to the teacher with empty hand.
The teacher told him, "...this is love... You keep looking for a better one, but when later you realise, you have already miss the person...."
"What is marriage then?" the student asked.
The teacher said, "in order to answer your question, go to the corn field and choose the biggest corn and come back. But the rule is: you can go through them only once and cannot turn back to pick."
The student went to the corn field, this time he is careful not to repeat the previous mistake, when he reach the middle of the field, he has picked one medium corn that he feel satisfy, and come back to the teacher.
The teacher told him, "this time you bring back a corn.... You look for one that is just nice, and you have faith and believe this is the best one you get.... This is marriage.”
Rabu, Desember 30, 2009
U are important person
Beberapa tahun yang silam,seorang pemuda terpelajar dari semarang
sedang berpergian naik pesawat ke Jakarta. Disampingnya duduk seorang
ibu yang sudah berumur. Si Pemuda menyapa, dan tak lama mereka
terlarut dalam obrolan ringan.
" Ibu, ada acara apa pergi ke Jakarta ?" tanya si Pemuda.
" Oh... Saya mau ke Jakarta terus "connecting flight" ke Singapore
nengokin anak saya yang ke dua" jawab ibu itu.
" Wouw..... hebat sekali putra ibu" pemuda itu menyahut dan terdiam
sejenak.
" Kalau saya tidak salah ,anak yang di Singapore tadi , putra yang
kedua ya bu?? Bagaimana dengan kakak-adik adik nya??
" Oh ya tentu " si Ibu bercerita :"Anak saya yang ketiga seorang
dokter di Malang, yang keempat Kerja di Perkebunan di Lampung, yang
kelima menjadi arsitek di Jakarta, yang keenam menjadi kepala cabang
bank di Purwokerto, yang ke tujuh menjadi Dosen di Semarang."
" Pemuda tadi diam, hebat ibu ini, bisa mendidik anak anaknya dengan
sangat baik, dari anak kedua sampai ke tujuh.
" terus bagaimana dengan anak pertama ibu ??"
Sambil menghela napas panjang, ibu itu menjawab,
" anak saya yang pertama menjadi petani di Godean Jogja nak". Dia
menggarap sawahnya sendiri yang tidak terlalu lebar nak"
Pemuda itu segera menyahut, "Maaf ya Bu..... kalau ibu agak kecewa ya
dengan anak pertama ibu, adik-adiknya berpendidikan tinggi dan sukses
di pekerjaannya, sedang dia menjadi petani "??
Do you want to know the answer??????...
Dengan tersenyum ibu itu menjawab,
" Ooo ...tidak tidak begitu nak....
Justru saya sangat bangga dengan anak pertama saya, karena dialah
yang membiayai sekolah semua adik-adiknya dari hasil dia bertani"
Hikmah :
Everybody in the world is an important person.
Open your eyes. ...your heart....your mind....your point of view..
because we cant make a judgement before read "the book "completely.
The wise person says...
The more important thing is not about "Who we are"
But.. "What we have been doing"
sedang berpergian naik pesawat ke Jakarta. Disampingnya duduk seorang
ibu yang sudah berumur. Si Pemuda menyapa, dan tak lama mereka
terlarut dalam obrolan ringan.
" Ibu, ada acara apa pergi ke Jakarta ?" tanya si Pemuda.
" Oh... Saya mau ke Jakarta terus "connecting flight" ke Singapore
nengokin anak saya yang ke dua" jawab ibu itu.
" Wouw..... hebat sekali putra ibu" pemuda itu menyahut dan terdiam
sejenak.
" Kalau saya tidak salah ,anak yang di Singapore tadi , putra yang
kedua ya bu?? Bagaimana dengan kakak-adik adik nya??
" Oh ya tentu " si Ibu bercerita :"Anak saya yang ketiga seorang
dokter di Malang, yang keempat Kerja di Perkebunan di Lampung, yang
kelima menjadi arsitek di Jakarta, yang keenam menjadi kepala cabang
bank di Purwokerto, yang ke tujuh menjadi Dosen di Semarang."
" Pemuda tadi diam, hebat ibu ini, bisa mendidik anak anaknya dengan
sangat baik, dari anak kedua sampai ke tujuh.
" terus bagaimana dengan anak pertama ibu ??"
Sambil menghela napas panjang, ibu itu menjawab,
" anak saya yang pertama menjadi petani di Godean Jogja nak". Dia
menggarap sawahnya sendiri yang tidak terlalu lebar nak"
Pemuda itu segera menyahut, "Maaf ya Bu..... kalau ibu agak kecewa ya
dengan anak pertama ibu, adik-adiknya berpendidikan tinggi dan sukses
di pekerjaannya, sedang dia menjadi petani "??
Do you want to know the answer??????...
Dengan tersenyum ibu itu menjawab,
" Ooo ...tidak tidak begitu nak....
Justru saya sangat bangga dengan anak pertama saya, karena dialah
yang membiayai sekolah semua adik-adiknya dari hasil dia bertani"
Hikmah :
Everybody in the world is an important person.
Open your eyes. ...your heart....your mind....your point of view..
because we cant make a judgement before read "the book "completely.
The wise person says...
The more important thing is not about "Who we are"
But.. "What we have been doing"
Minggu, Desember 27, 2009
4 Skenario
Skenario 1
Andaikan kita sedang naik di dalam sebuah kereta ekonomi.
Karena tidak mendapatkan tempat duduk, kita berdiri di dalam gerbong
tersebut.
Suasana cukup ramai meskipun masih ada tempat bagi kita untuk
menggoyang-goyangkan kaki.
Kita tidak menyadari handphone kita terjatuh.
Ada orang yang melihatnya, memungutnya dan langsung mengembalikannya kepada
kita.
"Pak, handphone bapak barusan jatuh nih,"
kata orang tersebut seraya memberikan handphone milik kita.
Apa yang akan kita lakukan kepada orang tersebut?
Mungkin kita akan mengucapkan terima kasih dan berlalu begitu saja.
Skenario 2
Sekarang kita beralih kepada skenario kedua.
Handphone kita terjatuh dan ada orang yang melihatnya dan memungutnya.
Orang itu tahu handphone itu milik kita tetapi tidak langsung memberikannya
kepada kita.
Hingga tiba saatnya kita akan turun dari kereta, kita baru menyadari
handphone kita hilang.
Sesaat sebelum kita turun dari kereta, orang itu ngembalikan handphone kita
sambil berkata,
"Pak, handphone bapak barusan jatuh nih."
Apa yang akan kita lakukan kepada orang tersebut?
Mungkin kita akan mengucapkan terima kasih juga kepada orang tersebut.
Rasa terima kasih yang kita berikan akan lebih besar daripada rasa terima
kasih yang kita berikan pada orang di skenario pertama (orang yang langsung
memberikan handphone itu kepada kita).
Setelah itu mungkin kita akan langsung turun dari kereta.
Skenario 3
Marilah kita beralih kepada skenario ketiga.
Pada skenario ini, kita tidak sadar handphone kita terjatuh, hingga kita
menyadari handphone kita tidak ada di kantong kita saat kita sudah turun
dari kereta.
Kita pun panik dan segera menelepon ke nomor handphone kita, berharap ada
orang baik yang menemukan handphone kita dan bersedia mengembalikannya
kepada kita.
Orang yang sejak tadi menemukan handphone kita (namun tidak memberikannya
kepada kita) menjawab telepon kita.
"Halo, selamat siang, Pak.
Saya pemilik handphone yang ada pada bapak sekarang," kita mencoba bicara
kepada orang yang sangat kita harapkan berbaik hati mengembalikan handphone
itu kembali kepada kita.
Orang yang menemukan handphone kita berkata,
"Oh, ini handphone bapak ya.
Oke deh, nanti saya akan turun di stasiun berikut.
Biar bapak ambil di sana nanti ya."
Dengan sedikit rasa lega dan penuh harapan, kita pun pergi ke stasiun
berikut dan menemui "orang baik" tersebut.
Orang itu pun memberikan handphone kita yang telah hilang.
Apa yang akan kita lakukan pada orang tersebut?
Satu hal yang pasti, kita akan mengucapkan terima kasih, dan seperti nya
akan lebih besar daripada rasa terima kasih kita pada skenario kedua bukan?
Bukan tidak mungkin kali ini kita akan memberikan hadiah kecil kepada orang
yang menemukan handphone kita tersebut.
Skenario 4
Terakhir, mari kita perhatikan skenario keempat.
Pada skenario ini, kita tidak sadar handphone kita terjatuh, kita turun dari
kereta dan menyadari bahwa handphone kita telah hilang, kita mencoba
menelepon tetapi tidak ada yang mengangkat.
Sampai akhirnya kita tiba di rumah.
Malam harinya, kita mencoba mengirimkan SMS :
"Bapak / Ibu yang budiman.
Saya adalah pemilik handphone yang ada pada bapak / ibu sekarang.
Saya sangat mengharapkan kebaikan hati bapak / ibu untuk dapat mengembalikan
handphone itu kepada saya.
Saya akan memberikan imbalan sepantasnya. "
SMS pun dikirim dan tidak ada balasan.
Kita sudah putus asa.
Kita kembali mengingat betapa banyaknya data penting yang ada di dalam
handphone kita.
Ada begitu banyak nomor telepon teman kita yang ikut hilang bersamanya.
Hingga akhirnya beberapa hari kemudian, orang yang menemukan handphone kita
menjawab SMS kita, dan mengajak ketemuan untuk mengembalikan handphone
tersebut.
Bagaimana kira-kira perasaan kita?
Tentunya kita akan sangat senang dan segera pergi ke tempat yang diberikan
oleh orang itu.
Kita pun sampai di sana dan orang itu mengembalikan handphone kita.
Apa yang akan kita berikan kepada orang tersebut?
Kita pasti akan mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepadanya, dan
mungkin kita akan memberikannya hadiah (yang kemungkinan besar lebih
berharga dibandingkan hadiah yang mungkin kita berikan di skenario ketiga).
Moral
Apa yang kita dapatkan dari empat skenario cerita di atas?
Pada keempat skenario tersebut, kita sama-sama kehilangan handphone, dan ada
orang yang menemukannya.
Orang pertama menemukannya dan langsung mengembalikannya kepada kita.
Kita berikan dia ucapan terima kasih.
Orang kedua menemukannya dan memberikan kepada kita sesaat sebelum kita
turun dari kereta.
Kita berikan dia ucapan terima kasih yang lebih besar.
Orang ketiga menemukannya dan memberikan kepada kita setelah kita turun dari
kereta.
Kita berikan dia ucapan terima kasih ditambah dengan sedikit hadiah.
Orang keempat menemukannya, menyimpannya selama beberapa hari, setelah itu
baru mengembalikannya kepada kita.
Kita berikan dia ucapan terima kasih ditambah hadiah yang lebih besar.
Ada sebuah hal yang aneh di sini.
Cobalah pikirkan, di antara keempat orang di atas, siapakah yang paling
baik?
Tentunya orang yang menemukannya dan langsung memberikannya kepada kita,
bukan?
Dia adalah orang pada skenario pertama.
Namun ironisnya, dialah yang mendapatkan reward paling sedikit di antara
empat orang di atas.
Manakah orang yang paling tidak baik?
Tentunya orang pada skenario keempat, karena dia telah membuat kita menunggu
beberapa hari dan mungkin saja memanfaatkan handphone kita tersebut selama
itu.
Namun, ternyata dia adalah orang yang akan kita berikan reward paling besar.
Apa yang sebenarnya terjadi di sini?
Kita memberikan reward kepada keempat orang tersebut secara tulus, tetapi
orang yang seharusnya lebih baik dan lebih pantas mendapatkan banyak, kita
berikan lebih sedikit.
OK, kenapa bisa begitu?
Ini karena rasa kehilangan yang kita alami semakin bertambah di setiap
skenario.
Pada skenario pertama, kita belum berasa kehilangan karena kita belum sadar
handphone kita jatuh, dan kita telah mendapatkannya kembali.
Pada skenario kedua, kita juga belum merasakan kehilangan karena saat itu
kita belum sadar, tetapi kita membayangkan rasa kehilangan yang mungkin akan
kita alami seandainya saat itu kita sudah turun dari kereta.
Pada skenario ketiga, kita sempat merasakan kehilangan, namun tidak lama
kita mendapatkan kelegaan dan harapan kita akan mendapatkan handphone kita
kembali.
Pada skenario keempat, kita sangat merasakan kehilangan itu.
Kita mungkin berpikir untuk memberikan sesuatu yang besar kepada orang yang
menemukan handphone kita, asalkan handphone itu bisa kembali kepada kita.
Rasa kehilangan yang bertambah menyebabkan kita semakin menghargai handphone
yang kita miliki.
Saat ini, adakah sesuatu yang kurang kita syukuri?
Apakah itu berupa rumah, handphone, teman-teman, kesempatan berkuliah,
kesempatan bekerja, atau suatu hal lain.
Namun, apakah yang akan terjadi apabila segalanya hilang dari genggaman
kita.
Kita pasti akan merasakan kehilangan yang luar biasa.
Saat itulah, kita baru dapat mensyukuri segala sesuatu yang telah hilang
tersebut.
Namun, apakah kita perlu merasakan kehilangan itu agar kita dapat bersyukur?
Sebaiknya tidak.
Syukurilah segala yang kita miliki, termasuk hidup kita, selagi itu masih
ada.
Jangan sampai kita menyesali karena tidak bersyukur ketika itu telah lenyap
dari diri kita.
Jangan pernah mengeluh dengan segala hal yang belum diperoleh.
Bahagialah dengan segala hal yang telah diperoleh.
Sesungguhnya, hidup ini berisikan banyak kebahagiaan.
Bila kita mampu memandang dari sudut yang benar.
Andaikan kita sedang naik di dalam sebuah kereta ekonomi.
Karena tidak mendapatkan tempat duduk, kita berdiri di dalam gerbong
tersebut.
Suasana cukup ramai meskipun masih ada tempat bagi kita untuk
menggoyang-goyangkan kaki.
Kita tidak menyadari handphone kita terjatuh.
Ada orang yang melihatnya, memungutnya dan langsung mengembalikannya kepada
kita.
"Pak, handphone bapak barusan jatuh nih,"
kata orang tersebut seraya memberikan handphone milik kita.
Apa yang akan kita lakukan kepada orang tersebut?
Mungkin kita akan mengucapkan terima kasih dan berlalu begitu saja.
Skenario 2
Sekarang kita beralih kepada skenario kedua.
Handphone kita terjatuh dan ada orang yang melihatnya dan memungutnya.
Orang itu tahu handphone itu milik kita tetapi tidak langsung memberikannya
kepada kita.
Hingga tiba saatnya kita akan turun dari kereta, kita baru menyadari
handphone kita hilang.
Sesaat sebelum kita turun dari kereta, orang itu ngembalikan handphone kita
sambil berkata,
"Pak, handphone bapak barusan jatuh nih."
Apa yang akan kita lakukan kepada orang tersebut?
Mungkin kita akan mengucapkan terima kasih juga kepada orang tersebut.
Rasa terima kasih yang kita berikan akan lebih besar daripada rasa terima
kasih yang kita berikan pada orang di skenario pertama (orang yang langsung
memberikan handphone itu kepada kita).
Setelah itu mungkin kita akan langsung turun dari kereta.
Skenario 3
Marilah kita beralih kepada skenario ketiga.
Pada skenario ini, kita tidak sadar handphone kita terjatuh, hingga kita
menyadari handphone kita tidak ada di kantong kita saat kita sudah turun
dari kereta.
Kita pun panik dan segera menelepon ke nomor handphone kita, berharap ada
orang baik yang menemukan handphone kita dan bersedia mengembalikannya
kepada kita.
Orang yang sejak tadi menemukan handphone kita (namun tidak memberikannya
kepada kita) menjawab telepon kita.
"Halo, selamat siang, Pak.
Saya pemilik handphone yang ada pada bapak sekarang," kita mencoba bicara
kepada orang yang sangat kita harapkan berbaik hati mengembalikan handphone
itu kembali kepada kita.
Orang yang menemukan handphone kita berkata,
"Oh, ini handphone bapak ya.
Oke deh, nanti saya akan turun di stasiun berikut.
Biar bapak ambil di sana nanti ya."
Dengan sedikit rasa lega dan penuh harapan, kita pun pergi ke stasiun
berikut dan menemui "orang baik" tersebut.
Orang itu pun memberikan handphone kita yang telah hilang.
Apa yang akan kita lakukan pada orang tersebut?
Satu hal yang pasti, kita akan mengucapkan terima kasih, dan seperti nya
akan lebih besar daripada rasa terima kasih kita pada skenario kedua bukan?
Bukan tidak mungkin kali ini kita akan memberikan hadiah kecil kepada orang
yang menemukan handphone kita tersebut.
Skenario 4
Terakhir, mari kita perhatikan skenario keempat.
Pada skenario ini, kita tidak sadar handphone kita terjatuh, kita turun dari
kereta dan menyadari bahwa handphone kita telah hilang, kita mencoba
menelepon tetapi tidak ada yang mengangkat.
Sampai akhirnya kita tiba di rumah.
Malam harinya, kita mencoba mengirimkan SMS :
"Bapak / Ibu yang budiman.
Saya adalah pemilik handphone yang ada pada bapak / ibu sekarang.
Saya sangat mengharapkan kebaikan hati bapak / ibu untuk dapat mengembalikan
handphone itu kepada saya.
Saya akan memberikan imbalan sepantasnya. "
SMS pun dikirim dan tidak ada balasan.
Kita sudah putus asa.
Kita kembali mengingat betapa banyaknya data penting yang ada di dalam
handphone kita.
Ada begitu banyak nomor telepon teman kita yang ikut hilang bersamanya.
Hingga akhirnya beberapa hari kemudian, orang yang menemukan handphone kita
menjawab SMS kita, dan mengajak ketemuan untuk mengembalikan handphone
tersebut.
Bagaimana kira-kira perasaan kita?
Tentunya kita akan sangat senang dan segera pergi ke tempat yang diberikan
oleh orang itu.
Kita pun sampai di sana dan orang itu mengembalikan handphone kita.
Apa yang akan kita berikan kepada orang tersebut?
Kita pasti akan mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepadanya, dan
mungkin kita akan memberikannya hadiah (yang kemungkinan besar lebih
berharga dibandingkan hadiah yang mungkin kita berikan di skenario ketiga).
Moral
Apa yang kita dapatkan dari empat skenario cerita di atas?
Pada keempat skenario tersebut, kita sama-sama kehilangan handphone, dan ada
orang yang menemukannya.
Orang pertama menemukannya dan langsung mengembalikannya kepada kita.
Kita berikan dia ucapan terima kasih.
Orang kedua menemukannya dan memberikan kepada kita sesaat sebelum kita
turun dari kereta.
Kita berikan dia ucapan terima kasih yang lebih besar.
Orang ketiga menemukannya dan memberikan kepada kita setelah kita turun dari
kereta.
Kita berikan dia ucapan terima kasih ditambah dengan sedikit hadiah.
Orang keempat menemukannya, menyimpannya selama beberapa hari, setelah itu
baru mengembalikannya kepada kita.
Kita berikan dia ucapan terima kasih ditambah hadiah yang lebih besar.
Ada sebuah hal yang aneh di sini.
Cobalah pikirkan, di antara keempat orang di atas, siapakah yang paling
baik?
Tentunya orang yang menemukannya dan langsung memberikannya kepada kita,
bukan?
Dia adalah orang pada skenario pertama.
Namun ironisnya, dialah yang mendapatkan reward paling sedikit di antara
empat orang di atas.
Manakah orang yang paling tidak baik?
Tentunya orang pada skenario keempat, karena dia telah membuat kita menunggu
beberapa hari dan mungkin saja memanfaatkan handphone kita tersebut selama
itu.
Namun, ternyata dia adalah orang yang akan kita berikan reward paling besar.
Apa yang sebenarnya terjadi di sini?
Kita memberikan reward kepada keempat orang tersebut secara tulus, tetapi
orang yang seharusnya lebih baik dan lebih pantas mendapatkan banyak, kita
berikan lebih sedikit.
OK, kenapa bisa begitu?
Ini karena rasa kehilangan yang kita alami semakin bertambah di setiap
skenario.
Pada skenario pertama, kita belum berasa kehilangan karena kita belum sadar
handphone kita jatuh, dan kita telah mendapatkannya kembali.
Pada skenario kedua, kita juga belum merasakan kehilangan karena saat itu
kita belum sadar, tetapi kita membayangkan rasa kehilangan yang mungkin akan
kita alami seandainya saat itu kita sudah turun dari kereta.
Pada skenario ketiga, kita sempat merasakan kehilangan, namun tidak lama
kita mendapatkan kelegaan dan harapan kita akan mendapatkan handphone kita
kembali.
Pada skenario keempat, kita sangat merasakan kehilangan itu.
Kita mungkin berpikir untuk memberikan sesuatu yang besar kepada orang yang
menemukan handphone kita, asalkan handphone itu bisa kembali kepada kita.
Rasa kehilangan yang bertambah menyebabkan kita semakin menghargai handphone
yang kita miliki.
Saat ini, adakah sesuatu yang kurang kita syukuri?
Apakah itu berupa rumah, handphone, teman-teman, kesempatan berkuliah,
kesempatan bekerja, atau suatu hal lain.
Namun, apakah yang akan terjadi apabila segalanya hilang dari genggaman
kita.
Kita pasti akan merasakan kehilangan yang luar biasa.
Saat itulah, kita baru dapat mensyukuri segala sesuatu yang telah hilang
tersebut.
Namun, apakah kita perlu merasakan kehilangan itu agar kita dapat bersyukur?
Sebaiknya tidak.
Syukurilah segala yang kita miliki, termasuk hidup kita, selagi itu masih
ada.
Jangan sampai kita menyesali karena tidak bersyukur ketika itu telah lenyap
dari diri kita.
Jangan pernah mengeluh dengan segala hal yang belum diperoleh.
Bahagialah dengan segala hal yang telah diperoleh.
Sesungguhnya, hidup ini berisikan banyak kebahagiaan.
Bila kita mampu memandang dari sudut yang benar.
Surat dari wanita cantik untuk pria kaya
Surat dari cewek cantik yang ingin mendapatkan pria kaya yang dimuat di
suatu majalah. Suratnya ditanggapi oleh seorang pria kaya dengan serius.
Bagus kata-katanya dan jangan lupa lihat nama pria yang membalas
suratnya.
Seorang gadis muda dan cantik, mengirimkan surat ke sebuah majalah
terkenal, dengan judul:
"Apa yang harus saya lakukan untuk dapat menikah dengan pria kaya?"
Saya akan jujur, tentang apa yang akan coba saya katakan di sini. tahun
ini saya berumur 25 tahun.
saya sangat cantik, mempunyai selera yang bagus akan fashion. saya ingin
menikahi seorang pria dengan penghasilan minimal $500ribu/tahun. anda
mungkin berpikir saya matre, tapi penghasilan $1juta/tahun hanya
dianggap sebagai kelas menengah di New York . persyaratan saya tidak
tinggi. apakah ada di forum ini mempunyai penghasilan $500ribu/tahun?
apa kalian semua sudah menikah? yang saya ingin tanyakan: apa yang harus
saya lakukan untuk menikahi orang kaya seperti anda? yang terkaya pernah
berkencan dengan saya hanya $250rb/tahun. bila seseorang ingin pindah ke
area pemukiman elit di City Garden New York , penghasilan $ 250rb/tahun
tidaklah cukup.
dengan kerendahan hati, saya ingin menanyakan:
dimana para lajang2 kaya hang out?
kisaran umur berapa yang harus saya cari?
kenapa kebanyakan istri dari orang2 kaya hanya berpenampilan standar?
saya pernah bertemu dengan beberapa wanita yang memiliki penampilan
tidak menarik, tapi mereka bisa menikahi pria kaya?
bagaimana, anda memutuskan, siapa yang bisa menjadi istrimu, dan siapa
yang hanya bisa menjadi pacar?
ttd.
Si Cantik
------------ --------- --
Inilah balasan dari seorang pria yang bekerja di Finansial Wall Street :
saya telah membaca surat mu dengan semangat. saya rasa banyak gadis2 di
luar sana yang mempunyai pertanyaan yang sama. ijinkan saya untuk
menganalisa situasi mu sebagai seorang profesional.
pendapatan tahunan saya lebih dari $500rb, sesuai syaratmu, jadi saya
harap semuanya tidak berpikir saya main2 di sini. dari sisi seorang
bisnis, merupakan keputusan salah untuk menikahimu. jawabannya mudah
saja, saya coba jelaskan, coba tempatkan "kecantikan" dan "uang"
bersisian, dimana anda mencoba menukar kecantikan dengan uang: pihak A
menyediakan kecantikan, dan pihak B membayar untuk itu, hal yg masuk
akal. tapi ada masalah disini, kecantikan anda akan menghilang, tapi
uang saya tidak akan hilang tanpa ada alasan yang bagus. faktanya,
pendapatan saya mungkin akan meningkat dari tahun ke tahun, tapi anda
tidak akan bertambah cantik tahun demi tahun. Karena itu, dari sudut
pandang ekonomi, saya adalah aset yang akan meningkat, dan anda adalah
aset yang akan menyusut. bukan hanya penyusutan normal, tapi penyusutan
eksponensial.
jika hanya (kecantikan) itu aset anda, nilai anda akan sangat
mengkhawatirkan 10 tahun mendatang. dari aturan yg kita gunakan di Wall
Street, setiap pertukaran memiliki posisi, kencan dengan anda juga
merupakan posisi tukar. jika nilai tukar turun, kita akan menjualnya dan
adalah ide buruk untuk menyimpan dalam jangka lama, seperti pernikahan
yang anda inginkan. mungkin terdengar kasar, tapi untuk membuat
keputusan bijaksana, setiap aset dengan nilai depresiasi besar akan di
jual atau "disewakan." siapa saja dengan penghasilan tahunan $500rb,
bukan orang bodoh, kami hanya berkencan dengan anda, tapi tidak akan
menikahi anda.
Saya akan menyarankan agar anda lupakan saja untuk mencari cara menikahi
orang kaya. lebih baik anda menjadikan diri anda orang kaya dengan
pendapatan $500rb/tahun. ini kesempatan lebih bagus daripada mencari
orang kaya bodoh. mudah2an balasan ini dapat membantu. jika anda
tertarik untuk servis "sewa pinjam," hubungi saya.
ttd,
J.P. Morgan _,_._,
suatu majalah. Suratnya ditanggapi oleh seorang pria kaya dengan serius.
Bagus kata-katanya dan jangan lupa lihat nama pria yang membalas
suratnya.
Seorang gadis muda dan cantik, mengirimkan surat ke sebuah majalah
terkenal, dengan judul:
"Apa yang harus saya lakukan untuk dapat menikah dengan pria kaya?"
Saya akan jujur, tentang apa yang akan coba saya katakan di sini. tahun
ini saya berumur 25 tahun.
saya sangat cantik, mempunyai selera yang bagus akan fashion. saya ingin
menikahi seorang pria dengan penghasilan minimal $500ribu/tahun. anda
mungkin berpikir saya matre, tapi penghasilan $1juta/tahun hanya
dianggap sebagai kelas menengah di New York . persyaratan saya tidak
tinggi. apakah ada di forum ini mempunyai penghasilan $500ribu/tahun?
apa kalian semua sudah menikah? yang saya ingin tanyakan: apa yang harus
saya lakukan untuk menikahi orang kaya seperti anda? yang terkaya pernah
berkencan dengan saya hanya $250rb/tahun. bila seseorang ingin pindah ke
area pemukiman elit di City Garden New York , penghasilan $ 250rb/tahun
tidaklah cukup.
dengan kerendahan hati, saya ingin menanyakan:
dimana para lajang2 kaya hang out?
kisaran umur berapa yang harus saya cari?
kenapa kebanyakan istri dari orang2 kaya hanya berpenampilan standar?
saya pernah bertemu dengan beberapa wanita yang memiliki penampilan
tidak menarik, tapi mereka bisa menikahi pria kaya?
bagaimana, anda memutuskan, siapa yang bisa menjadi istrimu, dan siapa
yang hanya bisa menjadi pacar?
ttd.
Si Cantik
------------ --------- --
Inilah balasan dari seorang pria yang bekerja di Finansial Wall Street :
saya telah membaca surat mu dengan semangat. saya rasa banyak gadis2 di
luar sana yang mempunyai pertanyaan yang sama. ijinkan saya untuk
menganalisa situasi mu sebagai seorang profesional.
pendapatan tahunan saya lebih dari $500rb, sesuai syaratmu, jadi saya
harap semuanya tidak berpikir saya main2 di sini. dari sisi seorang
bisnis, merupakan keputusan salah untuk menikahimu. jawabannya mudah
saja, saya coba jelaskan, coba tempatkan "kecantikan" dan "uang"
bersisian, dimana anda mencoba menukar kecantikan dengan uang: pihak A
menyediakan kecantikan, dan pihak B membayar untuk itu, hal yg masuk
akal. tapi ada masalah disini, kecantikan anda akan menghilang, tapi
uang saya tidak akan hilang tanpa ada alasan yang bagus. faktanya,
pendapatan saya mungkin akan meningkat dari tahun ke tahun, tapi anda
tidak akan bertambah cantik tahun demi tahun. Karena itu, dari sudut
pandang ekonomi, saya adalah aset yang akan meningkat, dan anda adalah
aset yang akan menyusut. bukan hanya penyusutan normal, tapi penyusutan
eksponensial.
jika hanya (kecantikan) itu aset anda, nilai anda akan sangat
mengkhawatirkan 10 tahun mendatang. dari aturan yg kita gunakan di Wall
Street, setiap pertukaran memiliki posisi, kencan dengan anda juga
merupakan posisi tukar. jika nilai tukar turun, kita akan menjualnya dan
adalah ide buruk untuk menyimpan dalam jangka lama, seperti pernikahan
yang anda inginkan. mungkin terdengar kasar, tapi untuk membuat
keputusan bijaksana, setiap aset dengan nilai depresiasi besar akan di
jual atau "disewakan." siapa saja dengan penghasilan tahunan $500rb,
bukan orang bodoh, kami hanya berkencan dengan anda, tapi tidak akan
menikahi anda.
Saya akan menyarankan agar anda lupakan saja untuk mencari cara menikahi
orang kaya. lebih baik anda menjadikan diri anda orang kaya dengan
pendapatan $500rb/tahun. ini kesempatan lebih bagus daripada mencari
orang kaya bodoh. mudah2an balasan ini dapat membantu. jika anda
tertarik untuk servis "sewa pinjam," hubungi saya.
ttd,
J.P. Morgan _,_._,
Jumat, Desember 25, 2009
Oktober....
Judul folder buat blog bulan Oktober aku beri nama Apologize blog at Oktober. Padahal waktu aku mau buat judul blog bulan Oktober, aku masih blank dan tidak punya ide sama sekali, benar-benar cuman iseng doang kasih nama itu. Tapi setelah menjalani hari demi hari di bulan Oktober aku baru mengerti bahwa emang bulan Oktober itu bulan untuk maaf. Baik memaafkan maupun dimaafkan.
Aku kadang merasa seperti punya Six sense dimana aku bisa memperkirakan apa yang terjadi di masa depan. Ini memang sudah terjadi beberapa kali cuman biasanya aku baru menyadari kekuatan aku itu setelah kejadiaannya benar menjadi kenyataan. Huff….
Lupakan lah kelebihan aku itu untuk sementara, aku ingin membahas dulu kenapa aku bilang bulan Oktober itu bulan untuk maaf. Aku memang belajar memaafkan diri aku yang telah berbuat banyak kesalahan. Baik terhadap orang tuaku, saudara-saudara, teman-teman, mantan pacar dan pacarku. Aku merasa nasib sial yang menimpaku beberapa bulan beruntun ini pasti hasil karma dari sikap aku yang egois, arogan dan kesombonganku selama ini.
1. Aku harus kehilanggan Papa dan belum sempat mengucapkan maaf setelah sekian lama perang dingin di antara kami, yang akhirnya harus aku nyatakan memang hanya perang dingin yang tidak beralasan. Bodoh bukan, membenci orang tua yang sakit dengan tuduhan ‘kenapa dia harus sakit di saat aku butuh dia menafkahi aku?’ Setiap hari harus menatapnya dengan penuh kebencian dan terus bertanya kepada Tuhan, ‘kenapa aku harus dilahirkan di keluarga yang serba sulit dan orang tua sakit-sakitan seperti dia?’ Kejam dan durhaka. Sesaat setelah Papa meninggal baru aku sadar tidak ada gunanya membencinya dan terus mengajaknya perang di sisa hidupnya yang juga dia sendiri tidak menginginkannya akan terjadi seperti begini. Sekarang aku hanya bisa membaca doa untuknya setiap hari sembari berharap Tuhan mengirimkan permohonan maaf aku untuknya di sana.
2. Aku mulai kehilangan arah dan tidak sopan terhadap ibu. Aku terus melihatnya sebagai ibu yang lemah dan sama sekali tidak open minded. Dia tidak secerdik ibu-ibu teman aku yang bisa SMS, bermain Facebook, atau teknologi lainnya. Aku mencapnya sebagai orang paling kuno sedunia. Lagi-lagi aku salah. Minggu lalu ada masalah besar menimpaku dan mengakibatkan aku down ke jurang terdalam… and see who accompany me? No one other beside my Mum. Dia sengaja jauh-jauh dari Medan naik bus untuk menemani aku di saat aku down. Setiap hari selama seminggu dia terus memberiku support dan menenangkan diriku. Awalnya aku sudah tidak memiliki asa untuk hidup namun akhirnya aku berpikir at least aku masih harus hidup demi dia. Mama bilang aku adalah belahan hatinya, kehilanggan aku sama saja membunuhnya secara sadis. Aku mengerti posisi aku yang terlalu special buat dia, dan aku pun berjanji akan built new life, new hope and new dream demi dia. aku juga berjanji tidak akan menyia-yiakan dia lagi, seperti Papa. ‘Tidak ada yang bisa mencintai kita dengan tulus dan tanpa pamrih selain orang tua kita’. Ingat lah kata-kataku ini, teman.
3. Aku harus memaafkan Danie tetapi juga sekaligus berterima kasih kepadanya. Setidaknya dia telah member aku tiket untuk menyebrangi hidupku yang terasa begitu membosankan menjadi sedikit menenggangkan. Walaupun cuman sesaat manis di awal dan kemudiaan sekarang memberikan noda teramat hitam di hatiku. Aku tetap merasa ini lah karma buruk yang aku tuai setelah selama ini terlalu remeh dengan namanya cinta. aku merasa hebat tidak bisa jatuh cinta lagi dan inginmenguji apakah cinta bisa sehebat itu membuat aku yang telah mati untuk bisa kembali mencintai? Tapi lagi-lagi kesombonganku lah yang menghancurkan aku. justru cinta itu tumbuh lebih cepat daripada yang aku kira. Siapa yang sangka cinta itu menyebar lebih cepat daripada penyakit kanker yang diam-diam mengrogoti seluruh tubuhku sehingga akhirnya aku mati tidak berdaya? Aku memang telah buta karena cinta, aku tidak perduli lagi kata-kata orang tua, saudara dan teman-teman yang selalu memperingatkan agar aku jangan terlalu mudah percaya dengan orang yang baru aku kenal. Aku sudah pernah menuliskan bahwa dia tiba-tiba hadir di hidupku yang hitam dan putih, membuatnya sungguh berwarna, aku benar-benar jatuh cinta kepadanya. Cintaku benar-benar tulus kepadanya. Ini pertama kalinya aku belajar mencintai seseorang dengan utuh, setia, dan dewasa. Namun, apa yang aku dapatkan? KEBOHONGAN! Adilkah ini?
Dia datang dengan seribu cerita kehidupan dia yang teramat membiusku untuk percaya seutuhnya bahwa dia memang hadir di kehidupanku untuk menata hidupku lebih berwarna. Tapi semua itu hanya keping-kepingan yang tersebar. Aku seperti sedang menyusun puzzle dan mencoba menarik hubungan cerita yang satu dengan yang lain karena dia memang tidak pernah menceritakan secara utuh. Itu yang membuatku curiga tapi lagi-lagi aku dibutakan oleh cinta.
Maaf, aku terlalu mendewakan dirinya. Sampai saat ini aku sendiri belum yakin bahwa puzzle itu telah tersusun sempurna atau belum. Gambar masih buram dan terlihat abu-abu. Aku sama sekali tidak bisa menebak siapa diri dia sebenarnya dan untuk apa dia tiba-tiba hadir di kehidupanku. Mengembirakan aku tapi seketika itu pula memporak-porandakan hatiku.
Pekanbaru, 22 Oktober 2009
Aku kadang merasa seperti punya Six sense dimana aku bisa memperkirakan apa yang terjadi di masa depan. Ini memang sudah terjadi beberapa kali cuman biasanya aku baru menyadari kekuatan aku itu setelah kejadiaannya benar menjadi kenyataan. Huff….
Lupakan lah kelebihan aku itu untuk sementara, aku ingin membahas dulu kenapa aku bilang bulan Oktober itu bulan untuk maaf. Aku memang belajar memaafkan diri aku yang telah berbuat banyak kesalahan. Baik terhadap orang tuaku, saudara-saudara, teman-teman, mantan pacar dan pacarku. Aku merasa nasib sial yang menimpaku beberapa bulan beruntun ini pasti hasil karma dari sikap aku yang egois, arogan dan kesombonganku selama ini.
1. Aku harus kehilanggan Papa dan belum sempat mengucapkan maaf setelah sekian lama perang dingin di antara kami, yang akhirnya harus aku nyatakan memang hanya perang dingin yang tidak beralasan. Bodoh bukan, membenci orang tua yang sakit dengan tuduhan ‘kenapa dia harus sakit di saat aku butuh dia menafkahi aku?’ Setiap hari harus menatapnya dengan penuh kebencian dan terus bertanya kepada Tuhan, ‘kenapa aku harus dilahirkan di keluarga yang serba sulit dan orang tua sakit-sakitan seperti dia?’ Kejam dan durhaka. Sesaat setelah Papa meninggal baru aku sadar tidak ada gunanya membencinya dan terus mengajaknya perang di sisa hidupnya yang juga dia sendiri tidak menginginkannya akan terjadi seperti begini. Sekarang aku hanya bisa membaca doa untuknya setiap hari sembari berharap Tuhan mengirimkan permohonan maaf aku untuknya di sana.
2. Aku mulai kehilangan arah dan tidak sopan terhadap ibu. Aku terus melihatnya sebagai ibu yang lemah dan sama sekali tidak open minded. Dia tidak secerdik ibu-ibu teman aku yang bisa SMS, bermain Facebook, atau teknologi lainnya. Aku mencapnya sebagai orang paling kuno sedunia. Lagi-lagi aku salah. Minggu lalu ada masalah besar menimpaku dan mengakibatkan aku down ke jurang terdalam… and see who accompany me? No one other beside my Mum. Dia sengaja jauh-jauh dari Medan naik bus untuk menemani aku di saat aku down. Setiap hari selama seminggu dia terus memberiku support dan menenangkan diriku. Awalnya aku sudah tidak memiliki asa untuk hidup namun akhirnya aku berpikir at least aku masih harus hidup demi dia. Mama bilang aku adalah belahan hatinya, kehilanggan aku sama saja membunuhnya secara sadis. Aku mengerti posisi aku yang terlalu special buat dia, dan aku pun berjanji akan built new life, new hope and new dream demi dia. aku juga berjanji tidak akan menyia-yiakan dia lagi, seperti Papa. ‘Tidak ada yang bisa mencintai kita dengan tulus dan tanpa pamrih selain orang tua kita’. Ingat lah kata-kataku ini, teman.
3. Aku harus memaafkan Danie tetapi juga sekaligus berterima kasih kepadanya. Setidaknya dia telah member aku tiket untuk menyebrangi hidupku yang terasa begitu membosankan menjadi sedikit menenggangkan. Walaupun cuman sesaat manis di awal dan kemudiaan sekarang memberikan noda teramat hitam di hatiku. Aku tetap merasa ini lah karma buruk yang aku tuai setelah selama ini terlalu remeh dengan namanya cinta. aku merasa hebat tidak bisa jatuh cinta lagi dan inginmenguji apakah cinta bisa sehebat itu membuat aku yang telah mati untuk bisa kembali mencintai? Tapi lagi-lagi kesombonganku lah yang menghancurkan aku. justru cinta itu tumbuh lebih cepat daripada yang aku kira. Siapa yang sangka cinta itu menyebar lebih cepat daripada penyakit kanker yang diam-diam mengrogoti seluruh tubuhku sehingga akhirnya aku mati tidak berdaya? Aku memang telah buta karena cinta, aku tidak perduli lagi kata-kata orang tua, saudara dan teman-teman yang selalu memperingatkan agar aku jangan terlalu mudah percaya dengan orang yang baru aku kenal. Aku sudah pernah menuliskan bahwa dia tiba-tiba hadir di hidupku yang hitam dan putih, membuatnya sungguh berwarna, aku benar-benar jatuh cinta kepadanya. Cintaku benar-benar tulus kepadanya. Ini pertama kalinya aku belajar mencintai seseorang dengan utuh, setia, dan dewasa. Namun, apa yang aku dapatkan? KEBOHONGAN! Adilkah ini?
Dia datang dengan seribu cerita kehidupan dia yang teramat membiusku untuk percaya seutuhnya bahwa dia memang hadir di kehidupanku untuk menata hidupku lebih berwarna. Tapi semua itu hanya keping-kepingan yang tersebar. Aku seperti sedang menyusun puzzle dan mencoba menarik hubungan cerita yang satu dengan yang lain karena dia memang tidak pernah menceritakan secara utuh. Itu yang membuatku curiga tapi lagi-lagi aku dibutakan oleh cinta.
Maaf, aku terlalu mendewakan dirinya. Sampai saat ini aku sendiri belum yakin bahwa puzzle itu telah tersusun sempurna atau belum. Gambar masih buram dan terlihat abu-abu. Aku sama sekali tidak bisa menebak siapa diri dia sebenarnya dan untuk apa dia tiba-tiba hadir di kehidupanku. Mengembirakan aku tapi seketika itu pula memporak-porandakan hatiku.
Pekanbaru, 22 Oktober 2009
What's Happend in Nop?
Pernah tidak merasa, hidup tapi seolah mati? Aku sedang merasakannya. Emosi kembali tidak menentu. Up-Down-Up-Down terus menerus. Aku kembali ke cirtumtance dimana aku kembali merasakan hidup di frame yang putih-hitam. Semua seolah sama saja. Kosong. Tidak berwarna dan apa lagi itu namanya jika bukan seperti mati.
Kegagalan ini memang bukan yang pertama tapi sakitnya luar biasa. Mungkin ini tingkat ke-complicatenya lebih berat dari kejadian kegagalan yang pernah aku rasakan dulu. Setiap satu fase kehidupan aku selalu mengahadapi satu step kegagalan. Semakin aku gagal membentuk aku jadi semakin kuat. Tapi dengan demikian aku juga akan balik ke circumtance di mana hidup hanya hitam dan putih.
Aku kembali menjadi orang yang galak, dingin, kaku, tertutup. Aku merasa tidak ada cinta di dunia ini selain cinta orang tua kepada anaknya. Seolah-olah dunia telah ambruk dan menimpa kepalaku sehingga semua yang terlihat hanya pemandangan yang kunang-kunang. Tidak jelas mana yang baik-buruk, dll.
Tuhan itu baik, itu lah yang selalu aku katakan pada diriku agar aku kuat menghadapi semuanya ini. Aku sebenarnya saat ini mengalami kekelaman yang benar-benar tidak dapat digambarkan. Tiba-tiba semua faith yang aku punya dissappear bersama dengan semua cinta yang juga ambruk. Memang terlalu rapuh hubungan ini sehingga sebenarnya aku telah mengantarkan jiwaku untuk masuk ke jurang ke kekelaman itu. Kepercayaan diri dan kepercayaan kepada orang lain yang coba aku bangun kembali setelah kegagalan yang lalu, kini kembali ambruk. Rata sama dengan tanah.
Cobaan apa lagi yang Tuhan berikan kepadaku? Sampai kapan aku jatuh cinta lalu dipermainkan seperti ini? Bunuh saja diriku daripada kamu menempatkan aku di frame putih-hitam dengan semua perbuatan kamu ini.
Pekan,18th of Nop’09.
Kegagalan ini memang bukan yang pertama tapi sakitnya luar biasa. Mungkin ini tingkat ke-complicatenya lebih berat dari kejadian kegagalan yang pernah aku rasakan dulu. Setiap satu fase kehidupan aku selalu mengahadapi satu step kegagalan. Semakin aku gagal membentuk aku jadi semakin kuat. Tapi dengan demikian aku juga akan balik ke circumtance di mana hidup hanya hitam dan putih.
Aku kembali menjadi orang yang galak, dingin, kaku, tertutup. Aku merasa tidak ada cinta di dunia ini selain cinta orang tua kepada anaknya. Seolah-olah dunia telah ambruk dan menimpa kepalaku sehingga semua yang terlihat hanya pemandangan yang kunang-kunang. Tidak jelas mana yang baik-buruk, dll.
Tuhan itu baik, itu lah yang selalu aku katakan pada diriku agar aku kuat menghadapi semuanya ini. Aku sebenarnya saat ini mengalami kekelaman yang benar-benar tidak dapat digambarkan. Tiba-tiba semua faith yang aku punya dissappear bersama dengan semua cinta yang juga ambruk. Memang terlalu rapuh hubungan ini sehingga sebenarnya aku telah mengantarkan jiwaku untuk masuk ke jurang ke kekelaman itu. Kepercayaan diri dan kepercayaan kepada orang lain yang coba aku bangun kembali setelah kegagalan yang lalu, kini kembali ambruk. Rata sama dengan tanah.
Cobaan apa lagi yang Tuhan berikan kepadaku? Sampai kapan aku jatuh cinta lalu dipermainkan seperti ini? Bunuh saja diriku daripada kamu menempatkan aku di frame putih-hitam dengan semua perbuatan kamu ini.
Pekan,18th of Nop’09.
News in Sept
Akhirnya beberapa hari lagi aku akan mengakhiri bulan September. Hehmm.. bulan ini ada beberapa cerita yang pengen aku update ke kalian.
1. Tanggal 05 September is my Yudicium day. Hari di mana aku mempertanggungjawabkan semua ilmu yang aku terima selama 4 tahun kuliah. Setelah sidang saat itu aku baru resmi menyandang gelar Sarjana Ekonomi dan tercatat sebagai alumnus Universitas Dharmawangsa. Sekarang di belakang nama aku sudah dilekati embel-embel gelar SE. hahaha… sombong. Papa pasti sangat bangga kalau dia masih hidup. Dia boleh bangga karna akhirnya anak terakhirnya dan merupakan satu-satunya anaknya yang memperoleh gelar Sarjana. Setidaknya itu lah usahaku untuk memperbaiki image keluargaku. Aku ingin membanggakan mereka karna aku memang patut dibanggakan. Dari sekian cerita buruk aku ingin mencatat suatu cerita baik di sana. Dan tanggal 5 ini menjawab semuanya. Ini salah satu usahaku agar Papa bisa tenang di sana, tapi aku janji bukan menjadi usaha terakhir aku untuk terus membuat Papa hidup tenang.
Sebelumnya aku sudah pernah bilang sama Papa bahwa aku akan menjaga diriku, hidup sebaik-baiknya, cukup makan dan pakaian, tidur di tempat yang layak dan yang paling penting aku harus sukses. Aku rasa tidak terlalu muluk-muluk janji seperti itu kepadanya. Aku tau Papa tidak menuntut banyak dariku dan anak-anaknya yang lain. Dia selalu mendidik dengan sangat sederhana menurutku. Papa bukan tipe yang suka menuntut atau mematok cita-cita yang tinggi sama seperti Mama. Mereka adalah orang tua yang mendidik dengan segala kesederhanaan mereka, membiarkan anak-anaknya tumbuh dan mencari sendiri apa yang menjadi keinginan anak-anaknya sampai akhirnya kadang kebebasan yang diberikan itu tanpa control yang jelas. Anak-anaknya sering kehilangan jati diri karna tidak pernah mendapat bimbingan di mana seharusnya dia mencari keinginan yang baik.
Baik atau buruknya mereka, tetap mereka adalah orangtuaku. Aku bahkan berdoa kepada Tuhan mudah-mudahan Dia memberikan aku kesempatan sekali lagi untuk menajdi anak dari kedua orangtuaku yang sekarang, agar apa yang belum sempat aku lakukan untuk membalas kasih sayang mereka dapat aku balas di kemudian hari.
2. Tanggal 17th until 22th Sept is my long day for holiday.
Aku benar-benar menepati janjiku untuk pulang 2x ke Medan. Kali ini tidak untuk menikmati holiday seperti yang telah di plan sebelumnya. Tapi untuk sembahyang 49 hari Papa. Menemui beberapa teman dan melepas rindu dengan Danie. Cuman, aku tidak merasakan kebahagiaan sebagaimana biasanya seorang kekasih yang melepas rindu.
Semua perasaan cinta itu disappear dan sekarang hanya menyisakan puing-puing rasa tidak percaya aku kepadanya. Aku sudah menghapus rasa cinta itu dan kembali menutup hatiku untuk suatu kesempatan dan mahluk yang namanya laki-laki. Aku hidup dan bernafas tapi sama sekali tidak ber-asa dan cinta. Hidup di kertas dan frame yang hitam-putih. Tenyata dia juga tidak berhasil mendapatkan cintaku. Tubuh dan fisik boleh saja dimilikinya tapi sama saja jika hatiku kosong. Begitu banyak pertimbangan kenapa aku tidak bisa menyerahkan cintaku kapadanya.
Pekanbaru, 26th of Sept 2009
1. Tanggal 05 September is my Yudicium day. Hari di mana aku mempertanggungjawabkan semua ilmu yang aku terima selama 4 tahun kuliah. Setelah sidang saat itu aku baru resmi menyandang gelar Sarjana Ekonomi dan tercatat sebagai alumnus Universitas Dharmawangsa. Sekarang di belakang nama aku sudah dilekati embel-embel gelar SE. hahaha… sombong. Papa pasti sangat bangga kalau dia masih hidup. Dia boleh bangga karna akhirnya anak terakhirnya dan merupakan satu-satunya anaknya yang memperoleh gelar Sarjana. Setidaknya itu lah usahaku untuk memperbaiki image keluargaku. Aku ingin membanggakan mereka karna aku memang patut dibanggakan. Dari sekian cerita buruk aku ingin mencatat suatu cerita baik di sana. Dan tanggal 5 ini menjawab semuanya. Ini salah satu usahaku agar Papa bisa tenang di sana, tapi aku janji bukan menjadi usaha terakhir aku untuk terus membuat Papa hidup tenang.
Sebelumnya aku sudah pernah bilang sama Papa bahwa aku akan menjaga diriku, hidup sebaik-baiknya, cukup makan dan pakaian, tidur di tempat yang layak dan yang paling penting aku harus sukses. Aku rasa tidak terlalu muluk-muluk janji seperti itu kepadanya. Aku tau Papa tidak menuntut banyak dariku dan anak-anaknya yang lain. Dia selalu mendidik dengan sangat sederhana menurutku. Papa bukan tipe yang suka menuntut atau mematok cita-cita yang tinggi sama seperti Mama. Mereka adalah orang tua yang mendidik dengan segala kesederhanaan mereka, membiarkan anak-anaknya tumbuh dan mencari sendiri apa yang menjadi keinginan anak-anaknya sampai akhirnya kadang kebebasan yang diberikan itu tanpa control yang jelas. Anak-anaknya sering kehilangan jati diri karna tidak pernah mendapat bimbingan di mana seharusnya dia mencari keinginan yang baik.
Baik atau buruknya mereka, tetap mereka adalah orangtuaku. Aku bahkan berdoa kepada Tuhan mudah-mudahan Dia memberikan aku kesempatan sekali lagi untuk menajdi anak dari kedua orangtuaku yang sekarang, agar apa yang belum sempat aku lakukan untuk membalas kasih sayang mereka dapat aku balas di kemudian hari.
2. Tanggal 17th until 22th Sept is my long day for holiday.
Aku benar-benar menepati janjiku untuk pulang 2x ke Medan. Kali ini tidak untuk menikmati holiday seperti yang telah di plan sebelumnya. Tapi untuk sembahyang 49 hari Papa. Menemui beberapa teman dan melepas rindu dengan Danie. Cuman, aku tidak merasakan kebahagiaan sebagaimana biasanya seorang kekasih yang melepas rindu.
Semua perasaan cinta itu disappear dan sekarang hanya menyisakan puing-puing rasa tidak percaya aku kepadanya. Aku sudah menghapus rasa cinta itu dan kembali menutup hatiku untuk suatu kesempatan dan mahluk yang namanya laki-laki. Aku hidup dan bernafas tapi sama sekali tidak ber-asa dan cinta. Hidup di kertas dan frame yang hitam-putih. Tenyata dia juga tidak berhasil mendapatkan cintaku. Tubuh dan fisik boleh saja dimilikinya tapi sama saja jika hatiku kosong. Begitu banyak pertimbangan kenapa aku tidak bisa menyerahkan cintaku kapadanya.
Pekanbaru, 26th of Sept 2009
This My Character
Stubborn and hard-hearted. Ambitious and serious. Loves to teach and be taught. Always looking at people's flaws and weaknesses. Likes to criticize. Hardworking and productive. Smart, neat and organized. Sensitive and has deep thoughts. Knows how to make others happy. Quiet unless excited or tensed. Rather reserved. Highly attentive. Resistant to illnesses but prone to colds. Romantic but has difficulties expressing love. Loves children. Loyal. Has great social abilities yet easily jealous. Very Stubborn and money cautious.
Must Read
Saya pernah membaca mengenai artikel yang menurut saya benar-benar perlu kita pertimbangkan
dalam memilih pasangan hidup kita. Artikel ini menggugah pandangan saya dalam memilih
dan memutuskan pasangan hidup. Saya beruntung membaca artikel ini, dan saya mau berbagi
dengan Saudara semua mengenai artikel ini. Semoga memberikan berkat juga untuk Saudara semua.
Cerita ini dibuat oleh seorang pria :
Adik wanita saya jatuh cinta pada seorang pria. Sayangnya pria ini mencintai wanita lain,
dan tidak berminat pada adik wanita saya, padahal adik saya cukup cantik, pandai dan baik.
Adik saya berusaha menarik pria (A) tersebut dengan memberi perhatian, terkadang memasak untuk dia,
dan lainnya. Tapi pria ini tetap tidak bergeming. Pada saat yang bersamaan, ada pria mencintainya.
Adik saya tidak tertarik dengan pria ini (B). B tidak peduli, dia tetap memberikan perhatian,
mau mendengarkan, memberikan hadiah-hadiah seperti bunga, coklat, dll. Sebetulnya ada
wanita lain yang mengejar pria B, tapi sayangnya si pria B tidak bergeming. Matanya hanya
melihat adik saya. Karena itulah, akhirnya adik saya memutuskan untuk menikah dengan pria B.
Setelah pernikahan, mereka dikarunia beberapa anak, dan adik saya makin lama makin bahagia.
Suaminya selalu menempatkan dia pada urutan nomor satu, memberikan hadiah-hadiah dan kejuta-kejutan manis,
memasak untuk dia, selalu ada sebagai tempat curahan, memberikan kebutuhan adik saya lahir dan batin.
Tentunya sebagai wanita, adik saya menjadi jatuh cinta dan semakin cinta dengan pria tersebut.
Cerita kedua adalah teman wanita saya. Dia mencintai seorang pria (C). Pria C ini sangat ganteng.
Banyak menarik perhatian wanita, termasuk teman wanita saya. Dia mengejar pria ini tanpa mengenal lelah, memberikan perhatian, berkunjung ke rumah pria tersebut, bergaul dengan teman-temannya.
Tapi pria C tidak mencintai teman wanita saya, dia mencintai wanita lain.
Karena satu dan lain hal, akhirnya teman wanita saya berhasil menikah dengan pria C, walaupun pria ini tidak mencintai dia.
Dia memiliki pria ini sekarang. Setelah pernikahan, wanita ini bertambah kurus,
mukanya tidak berseri, dan selalu terlihat tertekan. Dalam pernikahannya, pria C tidak pernah memberikan perhatian,
terkadang pulang malam, dan mempunyai wanita lain dalam pernikahan.
Kehidupan pernikahannya tidak bahagia. Dia mencoba dengan menambahkan anak, tetap pria C ini tidak peduli setelah mereka mempunyai lebih banyak anak.
Hati dan pikiran pria ini selalu pada wanita lain, wanita yang dicintainya.
Kesimpulan yang saya dapat dari cerita ini adalah
Pria adalah mahkluk yang berinisiatif dalam percintaan, pria suka mengejar, dan mendapat.
Sedangkan wanita adalah mahkluk yang bisa belajar untuk jatuh cinta atau bisa jatuh cinta kemudian apabila diperlakukan dengan baik dan penuh cinta.
Jadi dalam pernikahan idealnya memang kedua pihak saling mencintai. Tapi jika tidak,
alangkah baiknya jika pria yang mencintai terlebih dahulu, karena cinta seorang pria tidak bisa dibangun.
Dan jika pria mencintai seorang wanita, percayalah memang dia akan menempatkan wanita tersebut seperti ratunya,
berusaha memberikan yang terbaik dan selalu berusaha membahagiakan wanita tersebut.
Sebagai wanita, ingatlah untuk memilih pria yang mencintai kita. Tentunya setidak menariknya seorang wanita, pasti setidaknya da seorang pria pernah menyatakan suka pada wanita tersebut.
dalam memilih pasangan hidup kita. Artikel ini menggugah pandangan saya dalam memilih
dan memutuskan pasangan hidup. Saya beruntung membaca artikel ini, dan saya mau berbagi
dengan Saudara semua mengenai artikel ini. Semoga memberikan berkat juga untuk Saudara semua.
Cerita ini dibuat oleh seorang pria :
Adik wanita saya jatuh cinta pada seorang pria. Sayangnya pria ini mencintai wanita lain,
dan tidak berminat pada adik wanita saya, padahal adik saya cukup cantik, pandai dan baik.
Adik saya berusaha menarik pria (A) tersebut dengan memberi perhatian, terkadang memasak untuk dia,
dan lainnya. Tapi pria ini tetap tidak bergeming. Pada saat yang bersamaan, ada pria mencintainya.
Adik saya tidak tertarik dengan pria ini (B). B tidak peduli, dia tetap memberikan perhatian,
mau mendengarkan, memberikan hadiah-hadiah seperti bunga, coklat, dll. Sebetulnya ada
wanita lain yang mengejar pria B, tapi sayangnya si pria B tidak bergeming. Matanya hanya
melihat adik saya. Karena itulah, akhirnya adik saya memutuskan untuk menikah dengan pria B.
Setelah pernikahan, mereka dikarunia beberapa anak, dan adik saya makin lama makin bahagia.
Suaminya selalu menempatkan dia pada urutan nomor satu, memberikan hadiah-hadiah dan kejuta-kejutan manis,
memasak untuk dia, selalu ada sebagai tempat curahan, memberikan kebutuhan adik saya lahir dan batin.
Tentunya sebagai wanita, adik saya menjadi jatuh cinta dan semakin cinta dengan pria tersebut.
Cerita kedua adalah teman wanita saya. Dia mencintai seorang pria (C). Pria C ini sangat ganteng.
Banyak menarik perhatian wanita, termasuk teman wanita saya. Dia mengejar pria ini tanpa mengenal lelah, memberikan perhatian, berkunjung ke rumah pria tersebut, bergaul dengan teman-temannya.
Tapi pria C tidak mencintai teman wanita saya, dia mencintai wanita lain.
Karena satu dan lain hal, akhirnya teman wanita saya berhasil menikah dengan pria C, walaupun pria ini tidak mencintai dia.
Dia memiliki pria ini sekarang. Setelah pernikahan, wanita ini bertambah kurus,
mukanya tidak berseri, dan selalu terlihat tertekan. Dalam pernikahannya, pria C tidak pernah memberikan perhatian,
terkadang pulang malam, dan mempunyai wanita lain dalam pernikahan.
Kehidupan pernikahannya tidak bahagia. Dia mencoba dengan menambahkan anak, tetap pria C ini tidak peduli setelah mereka mempunyai lebih banyak anak.
Hati dan pikiran pria ini selalu pada wanita lain, wanita yang dicintainya.
Kesimpulan yang saya dapat dari cerita ini adalah
Pria adalah mahkluk yang berinisiatif dalam percintaan, pria suka mengejar, dan mendapat.
Sedangkan wanita adalah mahkluk yang bisa belajar untuk jatuh cinta atau bisa jatuh cinta kemudian apabila diperlakukan dengan baik dan penuh cinta.
Jadi dalam pernikahan idealnya memang kedua pihak saling mencintai. Tapi jika tidak,
alangkah baiknya jika pria yang mencintai terlebih dahulu, karena cinta seorang pria tidak bisa dibangun.
Dan jika pria mencintai seorang wanita, percayalah memang dia akan menempatkan wanita tersebut seperti ratunya,
berusaha memberikan yang terbaik dan selalu berusaha membahagiakan wanita tersebut.
Sebagai wanita, ingatlah untuk memilih pria yang mencintai kita. Tentunya setidak menariknya seorang wanita, pasti setidaknya da seorang pria pernah menyatakan suka pada wanita tersebut.
Selasa, Agustus 18, 2009
Berita Dukacita
Papaku meninggal hari Sabtu, 01 Agustus 2009, pukul 21.15 Wib di rumah. Terjawab sudah semua keras kepalaku, dan ini lah hasilnya… penyesalan seumur hidup. Aku tidak sempat melihat Papa menutup mata.
Boleh sedikit bercerita…
Senin, 27 Juli 2009, pukul 6.00 pagi aku terbangun dari lelapnya tidur yang aku rasa baru sejenak. Entah kenapa malam itu aku sulit sekali memejamkan mata dan ketika tidur merasakan hentakan kaki seperti jatuh ke jurang yang dalam? Aku bangun dengan hati kalut dan refleks mengapai Hape. Melihat ada SMS masuk dari nomor yang tidak aku kenal. Aku segera membacanya. “Bapak kumat lagi. Mulutnya sampai keluar busa.” Send Time : 04.16 Wib. Aku segera tau itu nomor abangku. Aku menelepon ke rumah dan menanyakan kabar Papa. Abang bilang sudah mendingan karena sudah diberikan pertolongan pertama dan sekarang sudah bisa duduk tapi belum bisa bicara. Papa mengeluhkan sakit pada kepala dan tenggorongkannya. Mengajaknya bicara, dia sudah tidak sanggup menjawab. Aku segera memberi instruksi untuk membawa Papa ke rumah sakit dahulu tapi abang bilang Medan hujan deras mesti tunggu sampai hujan dera.
Perasaaanku campur aduk seketika itu. Aku segera mengSMS kepala finance PT. GKI untuk mengabarkan bahwa Papa sedang sakit dan untungnya dia begitu pengertian langsung bilang bahwa jika aku hendak pulang dia mengizinkan aku pulang dan dia lah yang terus mendorongku untuk pulang ke Medan. Tapi memang aku bandel besikeras tidak mau pulang. Bukan hanya kepalaku yang keras tapi juga hatiku yang begitu keras tidak mau peduli dengan Papa. Tiba-tiba saja sakit hati ini menyeruak, benci ini menggunung dan menghasilkan kecuekkan tingkat tinggi yang parah.
Padahal sama sekali tidak ada salah paham yang berarti antara aku dengan Papa. Biasa lah jika orang sakit stroke, emosinya kadang sangat sulit dikendalikan dan emosiku sebagai orang yang lebih muda pun tidak kalah tinggi. Jadi hasilnya ya itu kami sering berantem dan adu mulut yang tidak penting. Sampai hari ini aku baru tau adu mulut itu tidak penting dan hanya membuktikan bahwa aku memang punya EQ yang rendah. Memang benar jika Papa sering mengeluhkan aku yang lulus sarjana belum bertindak sebagai seorang sarjana. Bagaimana dia bisa bangga kalau hanya nama saja sajana tapi EQ, cara pikir, dan cara aku menyelesaikan masalah masih seperti anak SD?
Ya, Papa memang seorang yang kasar dan kadang aku tidak suka cara dia menegur anak-anaknya. Tapi memang itu lah gayanya dalam mendidik anak. Haruskah aku menyesal telah lahir dari gen-nya dia? Aku tidak bisa memilih untuk bilang, tidak! Di antara semua kekurangannya, I Think he is my best Dad. Aku sudah berkali-kali mengatakan bahwa aku hanya akan memiliki 1 orang ayah, 1 orang ibu, keluargaku yang sekarang adalah orang yang harus aku terima dan aku terima sampai aku menutup mata.
Beberapa hari lewat aku selalu menelepon ke rumah, menanyakan perkembangan kesehatan Papa. Aku terus bertanya, haruskah aku pulang? Perlukah aku pulang segera? Tapi keluargaku bilang jangan panic, tidak perlu pulang dulu karna Papa sudah masuk ke RS Methodist. Masuk 2 hari, Papa terpaksa kami keluarkan karena tidak punya dana lagi, melihat belum ada perkembangan yang berarti kami anak-anaknya pun memutuskan agar Papa dibawa pulang saja dan dirawat di rumah.
Hari jumat, 31 Juli 2009, pukul 20.35 Wib, aku menelpon ke rumah dengan bahagia, mengabarkan aku sudah menerima gaji pertama dan sesegera itu pula mengirimkan uang ke Mama sebagai penganti uang Rumah Sakit Papa beberapa hari yang lalu. Tapi Mama sudah nanggis tersedu-sedu, dia terus mengeluhkan sampai kapan aku harus mengeraskan hatiku untuk tidak berniat pulang menjenguk Papa yang semakin hari semakin parah. Tatapannya sudah kosong, tidak bisa bicara dan makan pun sudah tidak bisa.
Aku memang terenyuh, ingin pulang tapi terus memikirkan berapa jumlah rupiah yang akan aku keluarkan. Mengingat aku memang harus merencanakan dengan baik financial pribadiku, ini semata-mata hanya untuk mengantisipasi beberapa event yang akan aku jalani beberapa bulan ke depan. Aku masih sempat-sempatnya menawar Mamaku dengan mengatakan, “Ma, Papa bisa bertahan sampai aku pulang bulan September tidak? Bulan September kan aku pulang Medan 2 kali. Tanggal 5 September sudah confirm aku pulang untuk sidang. Tanggal 19-22 September hari libur kan, aku juga akan pulang liburan di Medan.”
Mama hanya menjawab, “Kamu pulang saja lah, daripada kamu menyesal tidak melihat Papamu untuk terakhir kalinya.” Aku ingat kata-kata itu. terngiang-ngiang begitu jelas di telinggaku, dan penyesalan pun menjadi sia-sia.
Hari sabtu pagi, matahari sudah terik. Aku menelepon ke rumah kembali menanyakan kabar Papa. Mama kembali menaggis da mengatakan Papa sudah makin parah, matanya sudah kosong dan sama sekali tidak sadar. Sekali lagi aku masih menawar sebuah asa.
Siang jam 12 lewat, Abang mengabarkan lewat SMS bahwa Kakak yang dari Singapura pulang dan dia bertanya apakah aku tidak mau pulang? Satu pertanyaan yang langsung menembakku dan dari situ lah hatiku baru tergerak untuk pulang. Aku segera menelepon ke Travel dan menanyakan ada jadwal penerbangan ke Medan? Pihak Travel menjawab ada dan akan berangkat jam 14.25 Wib siang itu. ketika aku meminta untuk membook-kan tiket itu, pihak Travel mengatakan sudah tidak bisa lagi. Aku diminta untuk pergi ke airport langsung untuk membeli tiket di sana. Aku mengulur banyak waktu untuk packing bajuku. Habisnya aku pulang dengan setengah hati.
Aku masih santai-santai saja seakan-akan tidak mengerti ajal Papa sedang menjadi taruhannya. Hehmmmm… sesampainya aku ke bandara, benar-benar menjadi mimpi buruk untukku. Pesawat baru saja terbang. Ketika aku Tanya apakah ada penerbangan malam? Ticketing menjawab tidak ada. Penerbangan baru ada lagi besok dengan Riau Airlines jam 9.40 Wib.
Atas nasehat temanku, aku pun memilih pulang naeik bus. Hitung-hitung ala anak Akuntansi, naik pesawat dengan biaya Rp.674.000 besok pagi berangkat. Naik bus dengan biaya Rp.150.000 hari ini berangkat, besok pagi sampai. Toh sama-sama besok sampai tapi dengan selisih yang lumayan banyak. Akhirnya aku mengambil resiko pulang naik bus yang belum tentu aman dan dengan waktu perjalanan yang hampir 15 jam.
Tembak ke terminal sekitar jam 15.00 Wib, beli tiket dan akan berangkat jam 16.00 Wib. Temanku menasehatiku kembali dulu ke mess untuk makan, mandi dan ambil baju hangat. Setelah semua itu aku lakukan aku buru-buru ke terminal. Sampai disana jam 16.10 Wib, aku malah dilempar ke bus lain yang tujuannya ke Toba. Di luar dugaanku karna terasa begitu banyak rintangan. Aku batal naik PMH dan memilih ALS. Syukurnya aku tidak perlu menungggu lagi karena beberapa saat kemudian aku langsung berangkat.
Selama di perjalanan, hatiku begitu tegar. Mata pun terasa tidak ngantuk. Aku terjaga sampai jam 10 lewat dengan kondisi Hape lowbat, untuk itu aku mematikan Hape dengan harapan aku bisa mensave baterai agar dapat digunakan menelepon di pagi hari. Jam 10 lewat aku tertidur sebentar dan baru bangun ketika supir berhenti di rantau parapet untuk makan jam 11 lewat. Setelah makan aku membuka Hape dan meilihat ada beberapa SMS masuk. Salah satunya dari 222. Aku mendapat telepon dari rumah sekitar jam 9.30 Wib. Aku segera telepon ke rumah dan tidak ada yang menjawab. Menelepon ke Hape abang, dia marah-marah dan akhirnya memberikan kabar buruk ketika aku bertanya, “Bagaimana keadaan Papa?” “Papa sudah tidak ada”. Seketika itu aku menanggis. Aku teringat orang yang pertama kali aku telepon adalah kepala Financeku, Fanny, Nelly, mantanku.
Sampai di bus baru aku kabarin beberapa teman kuliah, teman ex sekantor GSI sambil menanggis. Sampai semua panic sambil turut bersimpati, berduka bersama denganku. Selama perjalanan itu aku sudah tidak bisa memejamkan mata. Terjawab sudah semua kekerasan hati dan kepalaku…. Apa yang telah direncanakan dengan indah unuk bulan September (sidang meja hijau), liburan, dan wisuda bulan Maret 2010, pupus seketika. Aku sedih sekali, Aku tidak mengharapkan Papa mengeluarkan biaya apa-apa buat semua acaraku tapi aku hanya mengharapkan kedua orangtuaku dapat hadir dengan utuh. Namun, ternyata Tuhan berkehendak lain. Pahit sekali ternyata nasibku.
Boleh sedikit bercerita…
Senin, 27 Juli 2009, pukul 6.00 pagi aku terbangun dari lelapnya tidur yang aku rasa baru sejenak. Entah kenapa malam itu aku sulit sekali memejamkan mata dan ketika tidur merasakan hentakan kaki seperti jatuh ke jurang yang dalam? Aku bangun dengan hati kalut dan refleks mengapai Hape. Melihat ada SMS masuk dari nomor yang tidak aku kenal. Aku segera membacanya. “Bapak kumat lagi. Mulutnya sampai keluar busa.” Send Time : 04.16 Wib. Aku segera tau itu nomor abangku. Aku menelepon ke rumah dan menanyakan kabar Papa. Abang bilang sudah mendingan karena sudah diberikan pertolongan pertama dan sekarang sudah bisa duduk tapi belum bisa bicara. Papa mengeluhkan sakit pada kepala dan tenggorongkannya. Mengajaknya bicara, dia sudah tidak sanggup menjawab. Aku segera memberi instruksi untuk membawa Papa ke rumah sakit dahulu tapi abang bilang Medan hujan deras mesti tunggu sampai hujan dera.
Perasaaanku campur aduk seketika itu. Aku segera mengSMS kepala finance PT. GKI untuk mengabarkan bahwa Papa sedang sakit dan untungnya dia begitu pengertian langsung bilang bahwa jika aku hendak pulang dia mengizinkan aku pulang dan dia lah yang terus mendorongku untuk pulang ke Medan. Tapi memang aku bandel besikeras tidak mau pulang. Bukan hanya kepalaku yang keras tapi juga hatiku yang begitu keras tidak mau peduli dengan Papa. Tiba-tiba saja sakit hati ini menyeruak, benci ini menggunung dan menghasilkan kecuekkan tingkat tinggi yang parah.
Padahal sama sekali tidak ada salah paham yang berarti antara aku dengan Papa. Biasa lah jika orang sakit stroke, emosinya kadang sangat sulit dikendalikan dan emosiku sebagai orang yang lebih muda pun tidak kalah tinggi. Jadi hasilnya ya itu kami sering berantem dan adu mulut yang tidak penting. Sampai hari ini aku baru tau adu mulut itu tidak penting dan hanya membuktikan bahwa aku memang punya EQ yang rendah. Memang benar jika Papa sering mengeluhkan aku yang lulus sarjana belum bertindak sebagai seorang sarjana. Bagaimana dia bisa bangga kalau hanya nama saja sajana tapi EQ, cara pikir, dan cara aku menyelesaikan masalah masih seperti anak SD?
Ya, Papa memang seorang yang kasar dan kadang aku tidak suka cara dia menegur anak-anaknya. Tapi memang itu lah gayanya dalam mendidik anak. Haruskah aku menyesal telah lahir dari gen-nya dia? Aku tidak bisa memilih untuk bilang, tidak! Di antara semua kekurangannya, I Think he is my best Dad. Aku sudah berkali-kali mengatakan bahwa aku hanya akan memiliki 1 orang ayah, 1 orang ibu, keluargaku yang sekarang adalah orang yang harus aku terima dan aku terima sampai aku menutup mata.
Beberapa hari lewat aku selalu menelepon ke rumah, menanyakan perkembangan kesehatan Papa. Aku terus bertanya, haruskah aku pulang? Perlukah aku pulang segera? Tapi keluargaku bilang jangan panic, tidak perlu pulang dulu karna Papa sudah masuk ke RS Methodist. Masuk 2 hari, Papa terpaksa kami keluarkan karena tidak punya dana lagi, melihat belum ada perkembangan yang berarti kami anak-anaknya pun memutuskan agar Papa dibawa pulang saja dan dirawat di rumah.
Hari jumat, 31 Juli 2009, pukul 20.35 Wib, aku menelpon ke rumah dengan bahagia, mengabarkan aku sudah menerima gaji pertama dan sesegera itu pula mengirimkan uang ke Mama sebagai penganti uang Rumah Sakit Papa beberapa hari yang lalu. Tapi Mama sudah nanggis tersedu-sedu, dia terus mengeluhkan sampai kapan aku harus mengeraskan hatiku untuk tidak berniat pulang menjenguk Papa yang semakin hari semakin parah. Tatapannya sudah kosong, tidak bisa bicara dan makan pun sudah tidak bisa.
Aku memang terenyuh, ingin pulang tapi terus memikirkan berapa jumlah rupiah yang akan aku keluarkan. Mengingat aku memang harus merencanakan dengan baik financial pribadiku, ini semata-mata hanya untuk mengantisipasi beberapa event yang akan aku jalani beberapa bulan ke depan. Aku masih sempat-sempatnya menawar Mamaku dengan mengatakan, “Ma, Papa bisa bertahan sampai aku pulang bulan September tidak? Bulan September kan aku pulang Medan 2 kali. Tanggal 5 September sudah confirm aku pulang untuk sidang. Tanggal 19-22 September hari libur kan, aku juga akan pulang liburan di Medan.”
Mama hanya menjawab, “Kamu pulang saja lah, daripada kamu menyesal tidak melihat Papamu untuk terakhir kalinya.” Aku ingat kata-kata itu. terngiang-ngiang begitu jelas di telinggaku, dan penyesalan pun menjadi sia-sia.
Hari sabtu pagi, matahari sudah terik. Aku menelepon ke rumah kembali menanyakan kabar Papa. Mama kembali menaggis da mengatakan Papa sudah makin parah, matanya sudah kosong dan sama sekali tidak sadar. Sekali lagi aku masih menawar sebuah asa.
Siang jam 12 lewat, Abang mengabarkan lewat SMS bahwa Kakak yang dari Singapura pulang dan dia bertanya apakah aku tidak mau pulang? Satu pertanyaan yang langsung menembakku dan dari situ lah hatiku baru tergerak untuk pulang. Aku segera menelepon ke Travel dan menanyakan ada jadwal penerbangan ke Medan? Pihak Travel menjawab ada dan akan berangkat jam 14.25 Wib siang itu. ketika aku meminta untuk membook-kan tiket itu, pihak Travel mengatakan sudah tidak bisa lagi. Aku diminta untuk pergi ke airport langsung untuk membeli tiket di sana. Aku mengulur banyak waktu untuk packing bajuku. Habisnya aku pulang dengan setengah hati.
Aku masih santai-santai saja seakan-akan tidak mengerti ajal Papa sedang menjadi taruhannya. Hehmmmm… sesampainya aku ke bandara, benar-benar menjadi mimpi buruk untukku. Pesawat baru saja terbang. Ketika aku Tanya apakah ada penerbangan malam? Ticketing menjawab tidak ada. Penerbangan baru ada lagi besok dengan Riau Airlines jam 9.40 Wib.
Atas nasehat temanku, aku pun memilih pulang naeik bus. Hitung-hitung ala anak Akuntansi, naik pesawat dengan biaya Rp.674.000 besok pagi berangkat. Naik bus dengan biaya Rp.150.000 hari ini berangkat, besok pagi sampai. Toh sama-sama besok sampai tapi dengan selisih yang lumayan banyak. Akhirnya aku mengambil resiko pulang naik bus yang belum tentu aman dan dengan waktu perjalanan yang hampir 15 jam.
Tembak ke terminal sekitar jam 15.00 Wib, beli tiket dan akan berangkat jam 16.00 Wib. Temanku menasehatiku kembali dulu ke mess untuk makan, mandi dan ambil baju hangat. Setelah semua itu aku lakukan aku buru-buru ke terminal. Sampai disana jam 16.10 Wib, aku malah dilempar ke bus lain yang tujuannya ke Toba. Di luar dugaanku karna terasa begitu banyak rintangan. Aku batal naik PMH dan memilih ALS. Syukurnya aku tidak perlu menungggu lagi karena beberapa saat kemudian aku langsung berangkat.
Selama di perjalanan, hatiku begitu tegar. Mata pun terasa tidak ngantuk. Aku terjaga sampai jam 10 lewat dengan kondisi Hape lowbat, untuk itu aku mematikan Hape dengan harapan aku bisa mensave baterai agar dapat digunakan menelepon di pagi hari. Jam 10 lewat aku tertidur sebentar dan baru bangun ketika supir berhenti di rantau parapet untuk makan jam 11 lewat. Setelah makan aku membuka Hape dan meilihat ada beberapa SMS masuk. Salah satunya dari 222. Aku mendapat telepon dari rumah sekitar jam 9.30 Wib. Aku segera telepon ke rumah dan tidak ada yang menjawab. Menelepon ke Hape abang, dia marah-marah dan akhirnya memberikan kabar buruk ketika aku bertanya, “Bagaimana keadaan Papa?” “Papa sudah tidak ada”. Seketika itu aku menanggis. Aku teringat orang yang pertama kali aku telepon adalah kepala Financeku, Fanny, Nelly, mantanku.
Sampai di bus baru aku kabarin beberapa teman kuliah, teman ex sekantor GSI sambil menanggis. Sampai semua panic sambil turut bersimpati, berduka bersama denganku. Selama perjalanan itu aku sudah tidak bisa memejamkan mata. Terjawab sudah semua kekerasan hati dan kepalaku…. Apa yang telah direncanakan dengan indah unuk bulan September (sidang meja hijau), liburan, dan wisuda bulan Maret 2010, pupus seketika. Aku sedih sekali, Aku tidak mengharapkan Papa mengeluarkan biaya apa-apa buat semua acaraku tapi aku hanya mengharapkan kedua orangtuaku dapat hadir dengan utuh. Namun, ternyata Tuhan berkehendak lain. Pahit sekali ternyata nasibku.
Papaku Kumat lagi
Papaku kumat lagi. Penyakit stokenya kambuh. Hari senin, 27 Juli 2009 jam 2 lewat, Papa tiba-tiba kejang-kejang sampai mulut berbusa. Sempat tidak sadarkan diri. Ketika membaca SMS yang dikirimkan abangku jam 4 subuh, jantungku berdetup super kencang. Itu karena aku terlalu jauh tidak bisa segera pulang tiba-tiba untuk melihat dia. Hatiku sangat sakit…
Aku jadi berpikir apakah dia sakit gara-gara aku yang pergi jauh dari sampingnya secara selama ini aku memang tidak pernah hidup jauh dari keluargaku. Apalagi aku sekarang menjadi tulang punggung, anak yang paling diharapkan oleh orang tua. Semua beban jadi tertumpu di pundakku. Aku mempunyai responbility untuk menjaga mereka. Itu lah tujuan aku bekerja jauh di sini, berharap mendapat penghasilan yang lebih agar aku pun bisa memberikan mereka kehidupan yang lebih baik. Tapi…, Tuhan selalu mencobai diriku. Entah apa lagi yang Tuhan hendak lakukan untuk mencobaiku.
Aku merasa tidak berdaya dan tidak bisa menghindar dari semua cobaan ini. Aku hanya lah aku. Ampuni lah aku… Aku tau ini tidak baik, demi uang yang lebih aku mengorbankan keluargaku. Masih bisakah uang membeli namanya kehangatan berkumpulnya suatu keluarga? Itu pertanyaan yang sungguh menusuk relung hatiku yang kemudian membunuhku. Aku tidak bisa menjawabnya karena aku tidak memiliki jawaban.
Aku hanya berdoa waktu cepat berlalu dan September cepat tiba supaya aku bisa berkumpul segera dengan keluargaku. Bulan September di mana aku sidang meja hijau tanggal 5 september. Di susul dengan libur lebaran, tanggal 19-22 September.
Pekanbaru,30 Juli 2009
Aku jadi berpikir apakah dia sakit gara-gara aku yang pergi jauh dari sampingnya secara selama ini aku memang tidak pernah hidup jauh dari keluargaku. Apalagi aku sekarang menjadi tulang punggung, anak yang paling diharapkan oleh orang tua. Semua beban jadi tertumpu di pundakku. Aku mempunyai responbility untuk menjaga mereka. Itu lah tujuan aku bekerja jauh di sini, berharap mendapat penghasilan yang lebih agar aku pun bisa memberikan mereka kehidupan yang lebih baik. Tapi…, Tuhan selalu mencobai diriku. Entah apa lagi yang Tuhan hendak lakukan untuk mencobaiku.
Aku merasa tidak berdaya dan tidak bisa menghindar dari semua cobaan ini. Aku hanya lah aku. Ampuni lah aku… Aku tau ini tidak baik, demi uang yang lebih aku mengorbankan keluargaku. Masih bisakah uang membeli namanya kehangatan berkumpulnya suatu keluarga? Itu pertanyaan yang sungguh menusuk relung hatiku yang kemudian membunuhku. Aku tidak bisa menjawabnya karena aku tidak memiliki jawaban.
Aku hanya berdoa waktu cepat berlalu dan September cepat tiba supaya aku bisa berkumpul segera dengan keluargaku. Bulan September di mana aku sidang meja hijau tanggal 5 september. Di susul dengan libur lebaran, tanggal 19-22 September.
Pekanbaru,30 Juli 2009
Langganan:
Postingan (Atom)
